Monday, January 7, 2008

jalan jalan yuk!

Biarkan Puing-Puing Sejarah Bicara

Tentu bila sedang berada di Sawalunto tempat atau objek yang tak mungkin ditinggalkan yakni Goedang Ramsoem. Di tempat yang dulunya adalah lokasi pemasakan umum bagi kuli tambang dan sekarang beralih menjadi museum yang menyoleksi semua seluk beluk budaya (dalam artian luas) daerah Sawalunto.

Bila telah masuk ke gerbang museum tersebut, lalu alihkanlah mata ke arah kiri, maka terbentanglah sebuah gedung besar dan cobalah mengayunkan tangan melangkahkan kaki untuk masuk ke gedung tersebut, dalam museum ini, terdapat banyak replika-replika dari kegiatan Belanda di Kota Arang ini. Diantaranya tempat masak raksasa, pemasak sayur dan tempat masak daging (tetapi daging hanya diberikan 2 kali seminggu, namun yang perlu diingat bahwa hal ini adalah pada tingkat ideal bukan pada praktik di lapangan).

Dan di kiri replika tersebut, terdapat sejumlah koleksi foto kegiatan kuli di pertambangan batubara, dengan melihat foto tersebut, terlihatlah kesusahan bagi kuli dengan pekerjaan yang digelutinya, baik mengenai berat mengali dasar bumi yang berisi batubara terbaik di Hindia Belanda dan juga pengawasan pribumi (inlandeer) atau Belanda terhadap pekerja (baik yang kontrak atau menjalani peralihan hukuman) kuli tambang. Koleksi tersebut jelas bisa sebagai representatif keadaan pada masa itu, tetapi jelas tak bisa menjelaskan secara menyeluruh kejadian dalam masa tersebut.

Di sebelah kiri pintu gerbang Goedang Ramsoem tersebut terdapat gedung tetapi lebih kecil dari gudang pertama tadi. Di sana akan terlihat sejumlah keunikan (plural) dari budaya masyarakat, dalam tempat ini terdapat sejumlah pakaian tradisional dari masyarakat yang berdomisili di Sawalunto. Mulai dari orang Minangkabau, Jawa, Batak, dan Cina, sehingga dalam masyarakat umum terdapat percampuran budaya yang padu.

Satu hal yang terlihat bila kita akan melangkah ke museum Goedang Ramsoem, maka hal yang terperhatikan adalah adanya perpaduan kebudayaan dari berbagai etnis ini. terlihat jelas terjadi pembauran yang apik dan kompak dari berbagai etnis. Hal ini terlihat dari tak adanya batasan atau sekat-sekat kampung di sana. Orang Cina bisa saja bertetangga dengan orang Jawa atau pun orang Minangkabau.

Kembali pada museum Goedang Ramsoem di atas. Setelah melihat dua gedung ini terdapat juga banyak lagi tempat peninggalan Belanda, baik kantor utama pejabat Belanda dan di belakang sebelah kiri terdapat generator dan berguna untuk sumber panas untuk memasak makanan bagi para kuli tambang.

Dengan melihat puing-puing sejarah yang masih tertinggal, maka kita sehendaknya bisa menjaga dan melestarikan peninggalan tersebut, dan tentu dengan memahami pesan tersirat dari peninggalan. Maka kita akan arif dan bagi kita yang mempunyai interpretasi tinggi maka benda ini dengan sendirinya akan bicara dan menjelaskan kejadian pada masanya.

*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand dan aktif di Komunitas Hujan

Objek Unik Penarik Wisatawan

Pada tahun 1950-an Sumatra Baratlah salah satu daerah yang sangat vokal terhadap isu-isu otonomi daerah dan desentralisasi. Di setiap kesempatan baik media cetak, forum resmi ataupun tidak, maka orang Sumatra Barat baik petinggi, ataupun orang bisa akan ikut serta menjelaskan dan mensosialisasikan keuntungan dari ide ini.

Tetapi setelah peristiwa PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di gagalkan oleh pusat dan salah satu dari kosekuensinya “kalah perang ini” yakni dipisahkannya daerah Riau dan Jambi yang jelas dulunya sebagai sumber devisa Provinsi Sumatra Tengah dan sekarang tidak lagi.

Sehingga awal reformasi dan isu desentralisasi dan otonomi kembali mencuat di setiap daerah di Indonesia, namun yang aneh yakni reaksi dari Sumatra Barat yang awalnya vokal, tetapi sekarang Sumatra Barat berkoar bukan tentang isu otoda dan desentralisasi tetapi hanya masalah “kembali ke nagari dan kembali ke surau”.

Sumatra Barat yang kehilangan devisa penting mulai melirik sektor yang sebenarnya sudah tersedia dari dulu yakni pariwisata alam. Tetapi bila dilihat di seluruh wilayah Indonesia ini terdapat juga banyak daerah yang menyajikan keindahan alam, sehingga perlu dicari objek wisata yang unik (khas) untuk menarik wisatawan.

Terlebih kalau hanya mengandalkan objek alam saja, maka jelas Sumatra Barat kalah saing dengan Bali yang sudah mulai dirintis dan dipromosikan sebagai objek wisata sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, dan ditambah katanya masyarakat Bali ramah terhadap wisatawan yang datang. Rudi Hartono G.

Objek Lubang Tambang

Dulunya daerah Sawalunto terkenal dan dibangun karena adanya sumber daya alam yang menarik orang datang, sumber daya alam ini berada di perut bumi yang kita kenal dengan emas hitam atau batubara. Dan akibatnya daerah tersebut dibuat dan diramaikan oleh pendatang, baik pekerja tambang atau pun orang Belanda yang mengambil keuntungan.

Karena SDA yang terkandung di sana, maka juga dibangun pelabuhan yang dikenal dengan Teluk Bayur dan Kereta Api untuk mendukung distribusi dan penjualan di luar pulau Sumatra atau di luar Negeri (Rusli Amran).

Tetapi setelah harga batubara jatuh dan juga semakin menipisnya persediaan, maka kegiatan tersebut terhenti, dan setelah itu, tak ada terdengar lagi ngaung kota yang terbanyak kedua keberadaan orang Belanda setelah Padang karena terdapat batubara.

Sekarang setelah adanya waterboom, maka daerah Sawalunto telah mulai terkenal lagi sebagai salah satu tujuan objek wisata Sumatra. Dan alhasil karena daya tarik objek ini, maka, kota ini menjadi ramai oleh wisatawan. Tetapi yang menarik yakni ternyata waterboom tersebut adalah objek tambahan (bukan objek utama) yang tersedia di Sawalunto. Ternyata pernyataan ini benar, bila kita melihat motto dari kota ini yakni kota tambang berbudaya. Ternyata objek wisata utama adalah objek tambang dan segala yang berhubungan dengan pertambangan.

Dan salah satu tujuan wisata yang disediakan yakni lubang tambang. Lubang tambang yang disediakan sebagai objek wisata tak seperti pada awal. Banyak lubang yang tertutup, baik karena gempa atau pun tertutup oleh air. Tetapi sekarang untuk melakukan rekreasi ke perut bumi tersebut kita sudah dipermudah dengan lampu dan dengan udara tambahan.

Ketika masuk pertama ke dalam lubang tersebut, maka akan terasa ada kekurangan udara apalagi di ujung batas lubang yang dibatasi dengan air yang ada. Jadi untuk mengatasi masalah ini alangkah lebih baik kita turun dengan 5-6 dan diiringi oleh satu pemandu.

Tentu lubang tambang tersebut menjadi saksi bisu terhadap kekejaman Belanda terhadap orang pribumi. Dengan melihat panjang dan dalamnya lubang tersebut, maka jelas bisa diketahui sulitnya pekerjaan orang rantai tersebut, ditambah semakin ke dalam tanah yang digali, maka akan semakin keras tanah yang akan dipecahkan.

Karena pekerjaan yang berat dan mengancam jiwa, maka Belanda memerlukan tindakan supaya pekerja yang betah. Sehingga tindakan Belanda setelah banyaknya pelarian pekerja, maka Belanda menerapkan sangsi yang berat terhadap pekerja yang lari, juga pemberian hadiah bagi siap saja yang menangkap pekerja yang lari akan mendapatkan hadiah. Dan juga pada waktu gajian Belanda mengadakan pasar malam dan dalam pasar malam tersebut daidakan permainan judi, mabuk dan tentunya wanita penghibur. Alhasil para pekerja tersebut akan menghutang dan untuk membayar hutang tersebut, maka dengan terpaksa pekerjaan yang berat tersebut dilakukan lagi. Belanda di setiap tempat yang kurang diminati pekerja atau pekerjaan yang sangat berat.

Disebabkan pekerjaan yang berat, maka para pekerja yang ada tidak hanya berasal dari satu etnis saja, mulai dari etnis Jawa, Cina, Minangkabau, batak dan lain-lain. Jelas karena senasib sepenanggungan maka bermacam etnis ini bisa membaur, tetapi di luar Sawalunto etnis pribumi dan etnis pendatang sering terjadi gesekkan berujung konflik berdarah karena kurang ikatan historis yang membangun.

Akhirnya dengan melihat lubang tersebut, maka kita akan arif dan makin mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah dianugrahkan Tuhan Yang Maha Esa dan tentunya dengan tetesan keringat, darah dan nyawa.

***Foto dan narasi Rudi Hartono Gece mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand, dan bergiat di Komunitas Hujan.

Tips

Berwisata ke Goedang Ramsoem dan masuk Lubang Tambang Batubara, maka hal yang perlu diperhatikan yakni

Bawalah kamera atau handycam untuk mengabadikan koleksi museum dan moment unik dalam sejarah kehidupan kita.

Sediakan notes kecil untuk mencatat uraian ringkas yang tertera di depan koleksi museum dan penjelasan tambahan yang terkait dengan hal ini.

jangan mencoba mengangkat dan mempermainkan barang-barang tersebut, karena mengandung nilai-nilai sejarah yang tinggi.

Mintalah bantuan dari dinas terkait untuk menjelaskan sejarah ringkas, objek yang akan dilihat.

Jangan buang sampah sembarangan kerena akan mengganggu kenyamanan dan keindahan.

Jangan sekali-sekali menyalakan benda yang bisa menyulut api baik korek api, rokok hal ini disebabkan di dalam lubang tambang terdapat sejenis gas yang disebut Methan yang bereaksi cepat terhadap benda di atas, dan apabila itu terjadi, maka bisa menimbulkan kebakaran dan ledakkan besar di dalam.

Bila kita sedang berada di dalam lubang tambang tersebut, maka alangkah baiknya kita masuk secara bergantian 5-6 orang saja. Karena bila secara keseluruhan masuk, akan mengakibatkan resiko bagi keselamatan jiwa karena udara tentu kurang.

Hal yang terpenting yakni setiap memasuki lubang tambang harus diiringi pemandu karena ia lebih mengetahui keadaan di dalam dan bisa menjelaskan mana daerah yang boleh atau belum bisa dilihat untuk saat itu.

Selamat menikmati.



No comments: