HILANGKAN BATAS ANTARA BARAT DAN TIMUR
(UNTUK KEMAJUANMU MINANGKABAU)
Oleh: Rudi Hartono Gece***
(UNTUK KEMAJUANMU MINANGKABAU)
Oleh: Rudi Hartono Gece***
Konsep barat dan timur sering diungkapkan orang untuk menjelaskan dua hal perbedaaan. Dengan konsep ini seolah-olah dua hal ini adalah dua kutub yang berlawanan dan akan saling tolak-menolak. Dan bila ada yang ingin mendekatkan, maka orang atau komunitas yang akan mendekatkan tersebut akan hancur.
Dengan konsep tersebut, maka timbullah rasa ingin melihatkan dirinya yang terbaik. Baik dari suku, warna kulit atau asal. Hal hasil dengan konsep inilah banyak terjadi perperangan dan penaklukan.
Dengan konsep tersebut, teori pun banyak berkembang dengan pembenaran dan pengembangan konsep di atas. Seperti “salah satu cara yang membuat satu daerah atau Negara yang tertinggal, maju maka jalan yang harus dilakukan yakni harus ada masuk ide dan orang baru (baca :kolonial)”. Baik dengan jalan penaklukan, lalu melakukan eksodus besar-besaran. Atau penaklukan saja tanpa melakukan eksodus.
Lalu pertanyaan pun timbul, apakah harus dengan masuknya ide yang di dalamnya ada kebudayaan baru, akan mengakibatkan satu daerah, Negara dan budaya akan berkembang. Bila kita lihat sepintas lalu memang dengan masuknya ide dan cara yang baru, maka dengan sendirinya, timbul semangat dari daerah tersebut untuk menaikan dan meninggikan kebudayaannya sendiri atau mem-fusi-kan dua budaya yang berbeda tersebut.
Tetapi, yang perlu kita ketahui dengan kata lain bila kita membenarkan hal tersebut, maka secara hakikat kita membenarkan suatu penjajahan. Padahal, satu budaya atau daerah di mana pun mempunyai hak yang sama untuk merdeka. Sedangkan, kalau hanya untuk membuat negara atau budaya tersebut maju tidak diperlukan adanya penjajajahan. Dan untuk men-fusi-kan daerah yang didatangi harus merdeka.
Akhirnya dengan konsep ini, maka banyak terjadi perbudakan, pembunuhan, kekerasan, pemerkosaan, pengeksploitasian (penghisapan) dan terjadi stratikasi antara kelas-kelas dan lain-lain.
Konsep itu pun juga ditelan mentah-mentah oleh orang timur untuk melihat secara universal terhadap orang barat. Ia beranggapan, bahwa semua yang akan dibawa, dari barat pasti akan memimbulkan sengsara yang berkepanjangan. Ini terlihat dari sejarah sebagian orang timur. Seolah virus defeatisme telah berkembang sedemikian rupa.
Padahal pada hakikatnya dua hal ini hanyalah sebuah konsep yang diciptakan hanya untuk membedakan letak dari seseorang. Bila dilihat lebih mendalam, maka barat dan timur itu sama, karena di dalamnya terdapat manusia yang memiliki cinta kasih.
Kita bisa melihat, bahwa di belahan mana pun, yang mananya dikhianati oleh siapa pun pasti menyakitkan. Juga namanya mendapatkan hadiah, dari orang yang kita sayangi pastilah menyenangkan dan hal ini sifatnya menyeluruh. Inilah nilai universal yang bisa menghancurkan semua dinding perbedaan antara barat dan timur.
Jadi tidak hal benar, bahwa barat selalu akan memimbulkan yang akan merugikan, dan tidak selalu orang timur akan memimbulkan cinta kasih. Padahal sampai saat sekarang ini konflik yang perpanjangan yang belum terakhir berada di kawasan timur yang notabene menganggap, bahwa daerahnya adalah daerah yang memiliki nilai budaya yang luas dan menyeluruh.
Begitu juga yang terjadi di Minangkabau yang terkenal dengan kebiasaaan marantau bagi para pemuda yang ingin mengadu nasib (meningkatkan pendapatan). Salah satu tujuan merantau selain mengadu nasib, yakni para perantau yang telah melakukan perantau bila, ia pulang akan memberikan suatu yang ia temui di perantauannya untuk kampung.
Dulu memang rantau dari orang Minangkabau tidak begitu jauh, tetapi di zaman yang modern dan maju begini, apakah orang Minang harus merantau ke situ situ saja tanpa perubahan. Sehingga, karena terbatasnya ruang gerak dari perantau Minangkabau sendiri sehingganya kitanya menjumpai pedagang dari Minang yang menguasai tanah abang. Padahal, bila ada kesempatan pun sebenarnya pasar-pasar di dunia bisa dikuasai oleh pedagang Minangkabau. Hal ini disebabkan bakat dari turun-temurun, bahwa orang Minangkabau pandai berdagang.
Bukan hanya masalah pedagang, kalau banyak pemuda Minang yang datang ke luar (Eropa atau Amerika) maka, dalam waktu yang tidak lama kita akan mendapati Syekh Ahmad khatib al- imam khabawi muda, M. Hatta muda, M. Natsir dan masing banyak lagi yang lahir di belahan bumi lain.
Jadi dengan begitu terciptalah satu hakikat dari kebudayaan yang saling mengisi satu sama lain. Dalam hal ini tidak ada satu budaya pun yang tetap (stagnan). Ia selalu berjalan dan dalam proses perputarannya itu, kebudayaan juga membenahi diri dengan mengambil nilai dari budaya lain.
Mungkin dengan sebuah contoh kecil akan membuat kita akan bertukar haluan pikiran. Seekor ikan yang hidup di air asin, maka dagingnya tentu tidak akan asin seperti air laut yang asin.
Kesudahannya, semua kembali pada penilaian dan pandangan seseorang. Bagaimana ia menyikapi keadaan yang terjadi di tengah kehidupannya. Kita hanya bisa berharap agar semuanya lebih baik dan memajukan. Dengan satu kunci, maka kebudayaan Minangkabau yang dulu sempat besar sampai ke Negeri Sembilan (Malaysia) pun akan terwujud sekarang. Yakni dengan cara kembalilah membuka diri dengan keadaan di luar da lakukan pembenahan dari dalam.
Sehingga, tercipta budaya Minangkabau yang mampu menjawab tantangan masa kini dan tidak terlalu larut dalam kebudayaan dulu. Serta diiringi menghilangkan sikap defeatisme yang salah satu indikator dari sikap tersebut yakni selalu mengalahkan terus pihak lain dengan keadaan yang diperoleh sekarang.
*** Rudi Hartono Gece adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.
No comments:
Post a Comment