Thursday, January 24, 2008
Friday, January 18, 2008
(UNTUK KEMAJUANMU MINANGKABAU)
Oleh: Rudi Hartono Gece***
Konsep barat dan timur sering diungkapkan orang untuk menjelaskan dua hal perbedaaan. Dengan konsep ini seolah-olah dua hal ini adalah dua kutub yang berlawanan dan akan saling tolak-menolak. Dan bila ada yang ingin mendekatkan, maka orang atau komunitas yang akan mendekatkan tersebut akan hancur.
Dengan konsep tersebut, maka timbullah rasa ingin melihatkan dirinya yang terbaik. Baik dari suku, warna kulit atau asal. Hal hasil dengan konsep inilah banyak terjadi perperangan dan penaklukan.
Dengan konsep tersebut, teori pun banyak berkembang dengan pembenaran dan pengembangan konsep di atas. Seperti “salah satu cara yang membuat satu daerah atau Negara yang tertinggal, maju maka jalan yang harus dilakukan yakni harus ada masuk ide dan orang baru (baca :kolonial)”. Baik dengan jalan penaklukan, lalu melakukan eksodus besar-besaran. Atau penaklukan saja tanpa melakukan eksodus.
Lalu pertanyaan pun timbul, apakah harus dengan masuknya ide yang di dalamnya ada kebudayaan baru, akan mengakibatkan satu daerah, Negara dan budaya akan berkembang. Bila kita lihat sepintas lalu memang dengan masuknya ide dan cara yang baru, maka dengan sendirinya, timbul semangat dari daerah tersebut untuk menaikan dan meninggikan kebudayaannya sendiri atau mem-fusi-kan dua budaya yang berbeda tersebut.
Tetapi, yang perlu kita ketahui dengan kata lain bila kita membenarkan hal tersebut, maka secara hakikat kita membenarkan suatu penjajahan. Padahal, satu budaya atau daerah di mana pun mempunyai hak yang sama untuk merdeka. Sedangkan, kalau hanya untuk membuat negara atau budaya tersebut maju tidak diperlukan adanya penjajajahan. Dan untuk men-fusi-kan daerah yang didatangi harus merdeka.
Akhirnya dengan konsep ini, maka banyak terjadi perbudakan, pembunuhan, kekerasan, pemerkosaan, pengeksploitasian (penghisapan) dan terjadi stratikasi antara kelas-kelas dan lain-lain.
Konsep itu pun juga ditelan mentah-mentah oleh orang timur untuk melihat secara universal terhadap orang barat. Ia beranggapan, bahwa semua yang akan dibawa, dari barat pasti akan memimbulkan sengsara yang berkepanjangan. Ini terlihat dari sejarah sebagian orang timur. Seolah virus defeatisme telah berkembang sedemikian rupa.
Padahal pada hakikatnya dua hal ini hanyalah sebuah konsep yang diciptakan hanya untuk membedakan letak dari seseorang. Bila dilihat lebih mendalam, maka barat dan timur itu sama, karena di dalamnya terdapat manusia yang memiliki cinta kasih.
Kita bisa melihat, bahwa di belahan mana pun, yang mananya dikhianati oleh siapa pun pasti menyakitkan. Juga namanya mendapatkan hadiah, dari orang yang kita sayangi pastilah menyenangkan dan hal ini sifatnya menyeluruh. Inilah nilai universal yang bisa menghancurkan semua dinding perbedaan antara barat dan timur.
Jadi tidak hal benar, bahwa barat selalu akan memimbulkan yang akan merugikan, dan tidak selalu orang timur akan memimbulkan cinta kasih. Padahal sampai saat sekarang ini konflik yang perpanjangan yang belum terakhir berada di kawasan timur yang notabene menganggap, bahwa daerahnya adalah daerah yang memiliki nilai budaya yang luas dan menyeluruh.
Begitu juga yang terjadi di Minangkabau yang terkenal dengan kebiasaaan marantau bagi para pemuda yang ingin mengadu nasib (meningkatkan pendapatan). Salah satu tujuan merantau selain mengadu nasib, yakni para perantau yang telah melakukan perantau bila, ia pulang akan memberikan suatu yang ia temui di perantauannya untuk kampung.
Dulu memang rantau dari orang Minangkabau tidak begitu jauh, tetapi di zaman yang modern dan maju begini, apakah orang Minang harus merantau ke situ situ saja tanpa perubahan. Sehingga, karena terbatasnya ruang gerak dari perantau Minangkabau sendiri sehingganya kitanya menjumpai pedagang dari Minang yang menguasai tanah abang. Padahal, bila ada kesempatan pun sebenarnya pasar-pasar di dunia bisa dikuasai oleh pedagang Minangkabau. Hal ini disebabkan bakat dari turun-temurun, bahwa orang Minangkabau pandai berdagang.
Bukan hanya masalah pedagang, kalau banyak pemuda Minang yang datang ke luar (Eropa atau Amerika) maka, dalam waktu yang tidak lama kita akan mendapati Syekh Ahmad khatib al- imam khabawi muda, M. Hatta muda, M. Natsir dan masing banyak lagi yang lahir di belahan bumi lain.
Jadi dengan begitu terciptalah satu hakikat dari kebudayaan yang saling mengisi satu sama lain. Dalam hal ini tidak ada satu budaya pun yang tetap (stagnan). Ia selalu berjalan dan dalam proses perputarannya itu, kebudayaan juga membenahi diri dengan mengambil nilai dari budaya lain.
Mungkin dengan sebuah contoh kecil akan membuat kita akan bertukar haluan pikiran. Seekor ikan yang hidup di air asin, maka dagingnya tentu tidak akan asin seperti air laut yang asin.
Kesudahannya, semua kembali pada penilaian dan pandangan seseorang. Bagaimana ia menyikapi keadaan yang terjadi di tengah kehidupannya. Kita hanya bisa berharap agar semuanya lebih baik dan memajukan. Dengan satu kunci, maka kebudayaan Minangkabau yang dulu sempat besar sampai ke Negeri Sembilan (Malaysia) pun akan terwujud sekarang. Yakni dengan cara kembalilah membuka diri dengan keadaan di luar da lakukan pembenahan dari dalam.
Sehingga, tercipta budaya Minangkabau yang mampu menjawab tantangan masa kini dan tidak terlalu larut dalam kebudayaan dulu. Serta diiringi menghilangkan sikap defeatisme yang salah satu indikator dari sikap tersebut yakni selalu mengalahkan terus pihak lain dengan keadaan yang diperoleh sekarang.
*** Rudi Hartono Gece adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.
Tuesday, January 8, 2008
Monday, January 7, 2008
jalan jalan yuk!
Biarkan Puing-Puing Sejarah Bicara
Tentu bila sedang berada di Sawalunto tempat atau objek yang tak mungkin ditinggalkan yakni Goedang Ramsoem. Di tempat yang dulunya adalah lokasi pemasakan umum bagi kuli tambang dan sekarang beralih menjadi museum yang menyoleksi semua seluk beluk budaya (dalam artian luas) daerah Sawalunto.
Bila telah masuk ke gerbang museum tersebut, lalu alihkanlah mata ke arah kiri, maka terbentanglah sebuah gedung besar dan cobalah mengayunkan tangan melangkahkan kaki untuk masuk ke gedung tersebut, dalam museum ini, terdapat banyak replika-replika dari kegiatan Belanda di Kota Arang ini. Diantaranya tempat masak raksasa, pemasak sayur dan tempat masak daging (tetapi daging hanya diberikan 2 kali seminggu, namun yang perlu diingat bahwa hal ini adalah pada tingkat ideal bukan pada praktik di lapangan).
Dan di kiri replika tersebut, terdapat sejumlah koleksi foto kegiatan kuli di pertambangan batubara, dengan melihat foto tersebut, terlihatlah kesusahan bagi kuli dengan pekerjaan yang digelutinya, baik mengenai berat mengali dasar bumi yang berisi batubara terbaik di Hindia Belanda dan juga pengawasan pribumi (inlandeer) atau Belanda terhadap pekerja (baik yang kontrak atau menjalani peralihan hukuman) kuli tambang. Koleksi tersebut jelas bisa sebagai representatif keadaan pada masa itu, tetapi jelas tak bisa menjelaskan secara menyeluruh kejadian dalam masa tersebut.
Di sebelah kiri pintu gerbang Goedang Ramsoem tersebut terdapat gedung tetapi lebih kecil dari gudang pertama tadi. Di
Satu hal yang terlihat bila kita akan melangkah ke museum Goedang Ramsoem, maka hal yang terperhatikan adalah adanya perpaduan kebudayaan dari berbagai etnis ini. terlihat jelas terjadi pembauran yang apik dan kompak dari berbagai etnis. Hal ini terlihat dari tak adanya batasan atau sekat-sekat kampung di
Kembali pada museum Goedang Ramsoem di atas. Setelah melihat dua gedung ini terdapat juga banyak lagi tempat peninggalan Belanda, baik kantor utama pejabat Belanda dan di belakang sebelah kiri terdapat generator dan berguna untuk sumber panas untuk memasak makanan bagi para kuli tambang.
Dengan melihat puing-puing sejarah yang masih tertinggal, maka kita sehendaknya bisa menjaga dan melestarikan peninggalan tersebut, dan tentu dengan memahami pesan tersirat dari peninggalan. Maka kita akan arif dan bagi kita yang mempunyai interpretasi tinggi maka benda ini dengan sendirinya akan bicara dan menjelaskan kejadian pada masanya.
*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand dan aktif di Komunitas Hujan
Objek Unik Penarik Wisatawan
Pada tahun 1950-an Sumatra Baratlah salah satu daerah yang sangat vokal terhadap isu-isu otonomi daerah dan desentralisasi. Di setiap kesempatan baik media cetak, forum resmi ataupun tidak, maka orang Sumatra Barat baik petinggi, ataupun orang bisa akan ikut serta menjelaskan dan mensosialisasikan keuntungan dari ide ini.
Tetapi setelah peristiwa PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik
Sehingga awal reformasi dan isu desentralisasi dan otonomi kembali mencuat di setiap daerah di Indonesia, namun yang aneh yakni reaksi dari Sumatra Barat yang awalnya vokal, tetapi sekarang Sumatra Barat berkoar bukan tentang isu otoda dan desentralisasi tetapi hanya masalah “kembali ke nagari dan kembali ke surau”.
Sumatra Barat yang kehilangan devisa penting mulai melirik sektor yang sebenarnya sudah tersedia dari dulu yakni pariwisata alam. Tetapi bila dilihat di seluruh wilayah
Terlebih kalau hanya mengandalkan objek alam saja, maka jelas Sumatra Barat kalah saing dengan Bali yang sudah mulai dirintis dan dipromosikan sebagai objek wisata sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, dan ditambah katanya masyarakat Bali ramah terhadap wisatawan yang datang. Rudi Hartono G.
Objek Lubang Tambang
Dulunya daerah Sawalunto terkenal dan dibangun karena adanya sumber daya alam yang menarik orang datang, sumber daya alam ini berada di perut bumi yang kita kenal dengan emas hitam atau batubara. Dan akibatnya daerah tersebut dibuat dan diramaikan oleh pendatang, baik pekerja tambang atau pun orang Belanda yang mengambil keuntungan.
Karena SDA yang terkandung di
Tetapi setelah harga batubara jatuh dan juga semakin menipisnya persediaan, maka kegiatan tersebut terhenti, dan setelah itu, tak ada terdengar lagi ngaung
Sekarang setelah adanya waterboom, maka daerah Sawalunto telah mulai terkenal lagi sebagai salah satu tujuan objek wisata
Dan salah satu tujuan wisata yang disediakan yakni lubang tambang. Lubang tambang yang disediakan sebagai objek wisata tak seperti pada awal. Banyak lubang yang tertutup, baik karena gempa atau pun tertutup oleh air. Tetapi sekarang untuk melakukan rekreasi ke perut bumi tersebut kita sudah dipermudah dengan lampu dan dengan udara tambahan.
Ketika masuk pertama ke dalam lubang tersebut, maka akan terasa ada kekurangan udara apalagi di ujung batas lubang yang dibatasi dengan air yang ada. Jadi untuk mengatasi masalah ini alangkah lebih baik kita turun dengan 5-6 dan diiringi oleh satu pemandu.
Tentu lubang tambang tersebut menjadi saksi bisu terhadap kekejaman Belanda terhadap orang pribumi. Dengan melihat panjang dan dalamnya lubang tersebut, maka jelas bisa diketahui sulitnya pekerjaan orang rantai tersebut, ditambah semakin ke dalam tanah yang digali, maka akan semakin keras tanah yang akan dipecahkan.
Karena pekerjaan yang berat dan mengancam jiwa, maka Belanda memerlukan tindakan supaya pekerja yang betah. Sehingga tindakan Belanda setelah banyaknya pelarian pekerja, maka Belanda menerapkan sangsi yang berat terhadap pekerja yang lari, juga pemberian hadiah bagi siap saja yang menangkap pekerja yang lari akan mendapatkan hadiah. Dan juga pada waktu gajian Belanda mengadakan pasar malam dan dalam pasar malam tersebut daidakan permainan judi, mabuk dan tentunya wanita penghibur. Alhasil para pekerja tersebut akan menghutang dan untuk membayar hutang tersebut, maka dengan terpaksa pekerjaan yang berat tersebut dilakukan lagi. Belanda di setiap tempat yang kurang diminati pekerja atau pekerjaan yang sangat berat.
Disebabkan pekerjaan yang berat, maka para pekerja yang ada tidak hanya berasal dari satu etnis saja, mulai dari etnis Jawa, Cina, Minangkabau, batak dan lain-lain. Jelas karena senasib sepenanggungan maka bermacam etnis ini bisa membaur, tetapi di luar Sawalunto etnis pribumi dan etnis pendatang sering terjadi gesekkan berujung konflik berdarah karena kurang ikatan historis yang membangun.
Akhirnya dengan melihat lubang tersebut, maka kita akan arif dan makin mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah dianugrahkan Tuhan Yang Maha Esa dan tentunya dengan tetesan keringat, darah dan nyawa.
***Foto dan narasi Rudi Hartono Gece mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand, dan bergiat di Komunitas Hujan.
Tips
Berwisata ke Goedang Ramsoem dan masuk Lubang Tambang Batubara, maka hal yang perlu diperhatikan yakni
Bawalah kamera atau handycam untuk mengabadikan koleksi museum dan moment unik dalam sejarah kehidupan kita.
Sediakan notes kecil untuk mencatat uraian ringkas yang tertera di depan koleksi museum dan penjelasan tambahan yang terkait dengan hal ini.
jangan mencoba mengangkat dan mempermainkan barang-barang tersebut, karena mengandung nilai-nilai sejarah yang tinggi.
Mintalah bantuan dari dinas terkait untuk menjelaskan sejarah ringkas, objek yang akan dilihat.
Jangan buang sampah sembarangan kerena akan mengganggu kenyamanan dan keindahan.
Jangan sekali-sekali menyalakan benda yang bisa menyulut api baik korek api, rokok hal ini disebabkan di dalam lubang tambang terdapat sejenis gas yang disebut Methan yang bereaksi cepat terhadap benda di atas, dan apabila itu terjadi, maka bisa menimbulkan kebakaran dan ledakkan besar di dalam.
Bila kita sedang berada di dalam lubang tambang tersebut, maka alangkah baiknya kita masuk secara bergantian 5-6 orang saja. Karena bila secara keseluruhan masuk, akan mengakibatkan resiko bagi keselamatan jiwa karena udara tentu kurang.
Hal yang terpenting yakni setiap memasuki lubang tambang harus diiringi pemandu karena ia lebih mengetahui keadaan di dalam dan bisa menjelaskan mana daerah yang boleh atau belum bisa dilihat untuk saat itu.
Selamat menikmati.



