<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354</id><updated>2011-04-21T20:26:49.562-07:00</updated><title type='text'>Rudi Putra Sianok</title><subtitle type='html'>Di sini tempat untuk berbagi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-302078951749890636</id><published>2008-01-24T02:38:00.001-08:00</published><updated>2008-01-24T02:39:02.489-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R5hqvAl-SpI/AAAAAAAAABo/-uILJiuSWfg/s1600-h/rudi023.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R5hqvAl-SpI/AAAAAAAAABo/-uILJiuSWfg/s320/rudi023.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5158990728998570642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-302078951749890636?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/302078951749890636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=302078951749890636&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/302078951749890636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/302078951749890636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/blog-post.html' title=''/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R5hqvAl-SpI/AAAAAAAAABo/-uILJiuSWfg/s72-c/rudi023.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-2903748956955754828</id><published>2008-01-18T02:03:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T02:15:08.366-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;HILANGKAN BATAS ANTARA BARAT DAN TIMUR&lt;br /&gt;(UNTUK KEMAJUANMU MINANGKABAU)&lt;br /&gt;Oleh: Rudi Hartono Gece*** &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konsep barat dan timur sering diungkapkan orang untuk menjelaskan dua hal perbedaaan. Dengan konsep ini seolah-olah dua hal ini adalah dua kutub yang berlawanan dan akan saling tolak-menolak. Dan bila ada yang ingin mendekatkan, maka orang atau komunitas yang akan mendekatkan tersebut akan hancur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep tersebut, maka timbullah rasa ingin melihatkan dirinya yang terbaik. Baik dari suku, warna kulit atau asal. Hal hasil dengan konsep inilah banyak terjadi perperangan dan penaklukan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dengan konsep tersebut, teori pun banyak berkembang dengan pembenaran dan pengembangan konsep di atas. Seperti “salah satu cara yang membuat satu daerah atau Negara yang tertinggal, maju maka jalan yang harus dilakukan yakni harus ada masuk ide dan orang baru (baca :kolonial)”. Baik dengan jalan penaklukan, lalu melakukan eksodus besar-besaran. Atau penaklukan saja tanpa melakukan eksodus. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu pertanyaan pun timbul, apakah harus dengan masuknya ide yang di dalamnya ada kebudayaan baru, akan mengakibatkan satu daerah, Negara dan budaya akan berkembang. Bila kita lihat sepintas lalu memang dengan masuknya ide dan cara yang baru, maka dengan sendirinya, timbul semangat dari daerah tersebut untuk menaikan dan meninggikan kebudayaannya sendiri atau mem-fusi-kan dua budaya yang berbeda tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, yang perlu kita ketahui dengan kata lain bila kita membenarkan hal tersebut, maka secara hakikat kita membenarkan suatu penjajahan. Padahal, satu budaya atau daerah di mana pun mempunyai hak yang sama untuk merdeka. Sedangkan, kalau hanya untuk membuat negara atau budaya tersebut maju tidak diperlukan adanya penjajajahan. Dan untuk men-fusi-kan daerah yang didatangi harus merdeka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan konsep ini, maka banyak terjadi perbudakan, pembunuhan, kekerasan, pemerkosaan, pengeksploitasian (penghisapan) dan terjadi stratikasi antara kelas-kelas dan lain-lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Konsep itu pun juga ditelan mentah-mentah oleh orang timur untuk melihat secara universal terhadap orang barat. Ia beranggapan, bahwa semua yang akan dibawa, dari barat pasti akan memimbulkan sengsara yang berkepanjangan. Ini terlihat dari sejarah sebagian orang timur. Seolah virus defeatisme telah berkembang sedemikian rupa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Padahal pada hakikatnya dua hal ini hanyalah sebuah konsep yang diciptakan hanya untuk membedakan letak dari seseorang. Bila dilihat lebih mendalam, maka barat dan timur itu sama, karena di dalamnya terdapat manusia yang memiliki cinta kasih. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat, bahwa di belahan mana pun, yang mananya dikhianati oleh siapa pun pasti menyakitkan. Juga namanya mendapatkan hadiah, dari orang yang kita sayangi pastilah menyenangkan dan hal ini sifatnya menyeluruh. Inilah nilai universal yang bisa menghancurkan semua dinding perbedaan antara barat dan timur. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadi tidak hal benar, bahwa barat selalu akan memimbulkan yang akan merugikan, dan tidak selalu orang timur akan memimbulkan cinta kasih. Padahal sampai saat sekarang ini konflik yang perpanjangan yang belum terakhir berada di kawasan timur yang notabene menganggap, bahwa daerahnya adalah daerah yang memiliki nilai budaya yang luas dan menyeluruh. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga yang terjadi di Minangkabau yang terkenal dengan kebiasaaan marantau bagi para pemuda yang ingin mengadu nasib (meningkatkan pendapatan). Salah satu tujuan merantau selain mengadu nasib, yakni para perantau yang telah melakukan perantau bila, ia pulang akan memberikan suatu yang ia temui di perantauannya untuk kampung. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dulu memang rantau dari orang Minangkabau tidak begitu jauh, tetapi di zaman yang modern dan maju begini, apakah orang Minang harus merantau ke situ situ saja tanpa perubahan. Sehingga, karena terbatasnya ruang gerak dari perantau Minangkabau sendiri sehingganya kitanya menjumpai pedagang dari Minang yang menguasai tanah abang. Padahal, bila ada kesempatan pun sebenarnya pasar-pasar di dunia bisa dikuasai oleh pedagang Minangkabau. Hal ini disebabkan bakat dari turun-temurun, bahwa orang Minangkabau pandai berdagang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya masalah pedagang, kalau banyak pemuda Minang yang datang ke luar (Eropa atau Amerika) maka, dalam waktu yang tidak lama kita akan mendapati Syekh Ahmad khatib al- imam khabawi muda, M. Hatta muda, M. Natsir dan masing banyak lagi yang lahir di belahan bumi lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jadi dengan begitu terciptalah satu hakikat dari kebudayaan yang saling mengisi satu sama lain. Dalam hal ini tidak ada satu budaya pun yang tetap (stagnan). Ia selalu berjalan dan dalam proses perputarannya itu, kebudayaan juga membenahi diri dengan mengambil nilai dari budaya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dengan sebuah contoh kecil akan membuat kita akan bertukar haluan pikiran. Seekor ikan yang hidup di air asin, maka dagingnya tentu tidak akan asin seperti air laut yang asin.&lt;br /&gt;Kesudahannya, semua kembali pada penilaian dan pandangan seseorang. Bagaimana ia menyikapi keadaan yang terjadi di tengah kehidupannya. Kita hanya bisa berharap agar semuanya lebih baik dan memajukan. Dengan satu kunci, maka kebudayaan Minangkabau yang dulu sempat besar sampai ke Negeri Sembilan (Malaysia) pun akan terwujud sekarang. Yakni dengan cara kembalilah membuka diri dengan keadaan di luar da lakukan pembenahan dari dalam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, tercipta budaya Minangkabau yang mampu menjawab tantangan masa kini dan tidak terlalu larut dalam kebudayaan dulu. Serta diiringi menghilangkan sikap defeatisme yang salah satu indikator dari sikap tersebut yakni selalu mengalahkan terus pihak lain dengan keadaan yang diperoleh sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Rudi Hartono Gece adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-2903748956955754828?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/2903748956955754828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=2903748956955754828&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/2903748956955754828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/2903748956955754828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/hilangkan-batas-antara-barat-dan-timur.html' title=''/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-7737359754214577641</id><published>2008-01-08T00:27:00.002-08:00</published><updated>2008-01-08T00:32:14.665-08:00</updated><title type='text'>Rumah Etnis Thionghua di Sawalunto dan Saksi Akulturasi Budaya yang Padu</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4M0UHV5wOI/AAAAAAAAABE/vzy668LtJio/s1600-h/Rumah+Etnis+Thionghua+di+Sawalunto.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153019918814920930" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4M0UHV5wOI/AAAAAAAAABE/vzy668LtJio/s320/Rumah+Etnis+Thionghua+di+Sawalunto.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-7737359754214577641?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/7737359754214577641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=7737359754214577641&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7737359754214577641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7737359754214577641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/rumah-etnis-thionghua-di-sawalunto-dan.html' title='Rumah Etnis Thionghua di Sawalunto dan Saksi Akulturasi Budaya yang Padu'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4M0UHV5wOI/AAAAAAAAABE/vzy668LtJio/s72-c/Rumah+Etnis+Thionghua+di+Sawalunto.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-47438514215186702</id><published>2008-01-08T00:22:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T00:23:43.895-08:00</updated><title type='text'>Foto dalam Lubang Tambang</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4My-XV5wLI/AAAAAAAAAAs/lKjFQ_dvT9Q/s1600-h/kirm+sgl+7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153018445641138354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4My-XV5wLI/AAAAAAAAAAs/lKjFQ_dvT9Q/s320/kirm+sgl+7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-47438514215186702?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/47438514215186702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=47438514215186702&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/47438514215186702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/47438514215186702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/foto-dalam-lubang-tambang.html' title='Foto dalam Lubang Tambang'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4My-XV5wLI/AAAAAAAAAAs/lKjFQ_dvT9Q/s72-c/kirm+sgl+7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-7277908034010330953</id><published>2008-01-08T00:21:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T00:22:35.889-08:00</updated><title type='text'>Gerbang Masuk Museum Gudang Ramsoem</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MyrHV5wKI/AAAAAAAAAAk/eY5Iwpcuv8U/s1600-h/kirim+sgl+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153018114928656546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MyrHV5wKI/AAAAAAAAAAk/eY5Iwpcuv8U/s320/kirim+sgl+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-7277908034010330953?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/7277908034010330953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=7277908034010330953&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7277908034010330953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7277908034010330953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/gerbang-masuk-museum-gudang-ramsoem.html' title='Gerbang Masuk Museum Gudang Ramsoem'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MyrHV5wKI/AAAAAAAAAAk/eY5Iwpcuv8U/s72-c/kirim+sgl+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-7272370605262752657</id><published>2008-01-08T00:19:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T00:21:21.370-08:00</updated><title type='text'>Replika Kuali Umum</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MyRnV5wJI/AAAAAAAAAAc/n7Ui1x_xcZQ/s1600-h/kirim+sgl+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153017676841992338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MyRnV5wJI/AAAAAAAAAAc/n7Ui1x_xcZQ/s320/kirim+sgl+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-7272370605262752657?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/7272370605262752657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=7272370605262752657&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7272370605262752657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7272370605262752657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/replika-kuali-umum.html' title='Replika Kuali Umum'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MyRnV5wJI/AAAAAAAAAAc/n7Ui1x_xcZQ/s72-c/kirim+sgl+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-7978371816557474883</id><published>2008-01-08T00:17:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T00:19:43.838-08:00</updated><title type='text'>foto Generator berada di Museum Goedang Ramsoem</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MxtnV5wHI/AAAAAAAAAAM/UeVEhngisf8/s1600-h/kirim+sgl+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153017058366701682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MxtnV5wHI/AAAAAAAAAAM/UeVEhngisf8/s320/kirim+sgl+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-7978371816557474883?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/7978371816557474883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=7978371816557474883&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7978371816557474883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7978371816557474883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/foto-generator-berada-di-museum-goedang.html' title='foto Generator berada di Museum Goedang Ramsoem'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_svzfQAZqKqI/R4MxtnV5wHI/AAAAAAAAAAM/UeVEhngisf8/s72-c/kirim+sgl+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-7473871685589449431</id><published>2008-01-07T06:16:00.000-08:00</published><updated>2008-01-08T00:15:09.814-08:00</updated><title type='text'>jalan jalan yuk!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = v /&gt;&lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;&lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;&lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;&lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;&lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;&lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;&lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;&lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;&lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;&lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;&lt;v:path connecttype="rect" gradientshapeok="t" extrusionok="f"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:lock aspectratio="t" ext="edit"&gt;&lt;v:imagedata title="Picture(3)" src="file:///C:\DOCUME~1\TARA~1.NET\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.jpg"&gt;&lt;v:imagedata title="Picture(2)" src="file:///C:\DOCUME~1\TARA~1.NET\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image002.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;Biarkan Puing-Puing Sejarah Bicara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;v:imagedata title="Wallp(625)" src="file:///C:\DOCUME~1\TARA~1.NET\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image003.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tentu bila sedang berada di Sawalunto tempat atau objek yang tak mungkin ditinggalkan yakni Goedang Ramsoem. Di tempat yang dulunya adalah lokasi pemasakan umum bagi kuli tambang dan sekarang beralih menjadi museum yang menyoleksi semua seluk beluk budaya (dalam artian luas) daerah Sawalunto.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Bila telah masuk ke gerbang museum tersebut, lalu alihkanlah mata ke arah kiri, maka&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;terbentanglah sebuah gedung besar dan cobalah mengayunkan tangan melangkahkan kaki untuk masuk ke gedung tersebut, dalam museum ini, terdapat banyak&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;replika-replika dari kegiatan Belanda di Kota Arang ini. Diantaranya&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;tempat masak raksasa, pemasak sayur dan tempat masak daging (tetapi daging hanya diberikan 2 kali seminggu, namun yang perlu diingat bahwa hal ini adalah &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;pada tingkat ideal bukan pada praktik di lapangan).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dan di&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;kiri replika tersebut, terdapat sejumlah koleksi foto kegiatan kuli di pertambangan batubara, dengan melihat foto tersebut, terlihatlah kesusahan bagi kuli dengan pekerjaan yang digelutinya, baik mengenai berat mengali dasar bumi yang berisi batubara terbaik di Hindia Belanda dan juga pengawasan pribumi (&lt;i&gt;inlandeer)&lt;/i&gt; atau Belanda terhadap pekerja (baik yang kontrak atau menjalani peralihan hukuman)&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;kuli tambang. Koleksi &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;tersebut jelas bisa sebagai representatif keadaan pada masa itu, tetapi jelas tak&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;bisa menjelaskan secara menyeluruh kejadian dalam masa tersebut. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Di sebelah kiri pintu gerbang Goedang Ramsoem tersebut terdapat gedung tetapi lebih kecil dari gudang pertama tadi. Di &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; akan terlihat sejumlah keunikan (plural) dari budaya masyarakat, dalam tempat ini terdapat sejumlah pakaian tradisional dari masyarakat yang berdomisili di Sawalunto. Mulai dari orang Minangkabau, Jawa, Batak, dan Cina, sehingga dalam masyarakat umum terdapat &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;percampuran budaya yang padu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Satu hal yang terlihat bila kita akan melangkah ke museum Goedang Ramsoem, maka hal yang terperhatikan adalah adanya perpaduan kebudayaan dari berbagai etnis ini. terlihat jelas terjadi pembauran yang apik dan kompak dari berbagai etnis. Hal ini terlihat dari tak adanya batasan atau sekat-sekat kampung di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Orang Cina bisa saja bertetangga dengan orang Jawa atau pun orang Minangkabau. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Kembali pada museum Goedang Ramsoem di atas. Setelah melihat dua gedung ini terdapat juga banyak lagi tempat peninggalan Belanda, baik kantor utama pejabat Belanda dan di belakang sebelah kiri terdapat generator dan berguna untuk sumber&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;panas untuk memasak makanan bagi para kuli tambang.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dengan melihat puing-puing sejarah yang masih tertinggal, maka kita sehendaknya bisa menjaga dan melestarikan peninggalan tersebut, dan tentu dengan memahami pesan tersirat dari peninggalan. Maka kita akan arif dan bagi kita yang mempunyai interpretasi tinggi maka benda ini dengan sendirinya akan bicara dan menjelaskan kejadian pada masanya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;v:imagedata title="Wallp(624)" src="file:///C:\DOCUME~1\TARA~1.NET\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg"&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*** Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand dan aktif di Komunitas Hujan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;Objek Unik Penarik Wisatawan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;v:imagedata title="ganti mata0077DSC_0078" src="file:///C:\DOCUME~1\TARA~1.NET\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image007.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:13;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Pada tahun 1950-an Sumatra Baratlah salah satu daerah yang sangat vokal terhadap isu-isu otonomi daerah dan desentralisasi. Di setiap kesempatan baik media cetak, forum resmi ataupun tidak, maka orang Sumatra Barat baik petinggi, ataupun orang bisa akan ikut serta menjelaskan dan mensosialisasikan keuntungan dari ide ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tetapi setelah peristiwa PRRI (Pemerintahan &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Revolusioner Republik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;) di gagalkan oleh pusat dan salah satu dari kosekuensinya &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;“kalah perang ini” yakni dipisahkannya daerah Riau dan Jambi yang jelas dulunya sebagai sumber devisa Provinsi Sumatra Tengah dan sekarang tidak lagi. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sehingga awal reformasi dan isu desentralisasi dan otonomi kembali mencuat di setiap daerah di Indonesia, namun yang aneh yakni reaksi dari Sumatra Barat yang awalnya vokal, tetapi sekarang Sumatra Barat &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;berkoar bukan tentang isu otoda dan desentralisasi &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;tetapi hanya masalah “kembali ke nagari dan kembali ke surau”. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sumatra Barat yang kehilangan devisa penting mulai melirik sektor yang sebenarnya sudah tersedia dari dulu yakni pariwisata alam. Tetapi bila dilihat di seluruh wilayah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; ini terdapat juga banyak daerah yang menyajikan keindahan alam, sehingga perlu dicari objek wisata yang unik (khas) untuk menarik wisatawan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Terlebih kalau hanya mengandalkan objek alam saja, maka jelas Sumatra Barat kalah saing dengan Bali yang sudah mulai dirintis dan dipromosikan sebagai objek wisata sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, dan ditambah katanya masyarakat Bali ramah terhadap wisatawan yang datang.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Rudi Hartono G.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Objek Lubang Tambang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 0.5in; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;v:imagedata title="Picture(1)" src="file:///C:\DOCUME~1\TARA~1.NET\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image009.jpg"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dulunya daerah Sawalunto terkenal dan dibangun karena adanya sumber daya alam yang menarik orang datang, sumber daya alam ini berada di perut bumi yang kita kenal dengan &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;emas hitam atau batubara. Dan akibatnya daerah tersebut dibuat dan diramaikan oleh pendatang, baik pekerja tambang atau pun orang Belanda yang mengambil keuntungan.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Karena SDA yang terkandung di &lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;, maka juga dibangun pelabuhan yang dikenal dengan Teluk Bayur dan Kereta Api untuk mendukung distribusi dan penjualan di luar pulau &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt; atau di luar Negeri (Rusli Amran).&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tetapi setelah harga batubara jatuh dan juga semakin menipisnya persediaan, maka kegiatan tersebut terhenti, dan setelah itu, tak ada terdengar lagi ngaung &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; yang terbanyak kedua keberadaan orang Belanda setelah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Padang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; karena terdapat batubara.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sekarang setelah adanya waterboom, maka daerah Sawalunto telah mulai terkenal&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;lagi sebagai salah satu tujuan objek wisata &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt;. Dan alhasil karena daya tarik objek ini, maka, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini menjadi ramai oleh wisatawan. Tetapi yang menarik yakni ternyata waterboom tersebut adalah objek tambahan (bukan objek utama) yang tersedia di Sawalunto. Ternyata pernyataan ini benar, bila kita melihat motto dari &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; ini yakni &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tambang berbudaya. Ternyata objek wisata utama adalah objek tambang dan segala yang berhubungan dengan pertambangan. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dan salah satu tujuan wisata yang disediakan yakni lubang tambang. Lubang tambang yang disediakan sebagai objek wisata tak seperti pada awal. Banyak lubang yang &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;tertutup, baik karena gempa atau pun tertutup oleh air. Tetapi sekarang untuk melakukan rekreasi ke perut bumi tersebut kita sudah dipermudah dengan lampu dan dengan udara tambahan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Ketika masuk pertama ke dalam lubang tersebut, maka akan terasa ada kekurangan udara apalagi di ujung batas lubang yang dibatasi dengan air yang ada. Jadi untuk mengatasi masalah ini alangkah lebih baik kita turun dengan 5-6 dan diiringi oleh satu pemandu.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Tentu lubang tambang tersebut menjadi saksi bisu terhadap kekejaman Belanda terhadap orang pribumi. Dengan melihat panjang dan dalamnya lubang tersebut, maka jelas bisa diketahui sulitnya pekerjaan orang rantai tersebut, ditambah semakin ke dalam tanah yang digali, maka akan semakin keras tanah yang akan dipecahkan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Karena pekerjaan yang berat dan mengancam jiwa, maka Belanda memerlukan tindakan supaya pekerja yang betah. Sehingga tindakan Belanda setelah banyaknya pelarian pekerja, maka Belanda menerapkan sangsi yang berat terhadap pekerja yang lari, juga pemberian hadiah bagi siap saja yang menangkap pekerja yang lari akan mendapatkan hadiah. Dan juga pada waktu gajian Belanda mengadakan pasar malam dan dalam pasar malam tersebut daidakan permainan judi, mabuk dan tentunya wanita penghibur. Alhasil para pekerja tersebut akan menghutang dan untuk membayar hutang tersebut, maka dengan terpaksa pekerjaan yang berat tersebut &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;dilakukan lagi. Belanda di setiap tempat yang kurang diminati pekerja atau pekerjaan yang sangat berat.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Disebabkan pekerjaan yang berat, maka para pekerja yang ada tidak hanya berasal dari satu etnis saja, mulai dari etnis Jawa, Cina, Minangkabau, batak dan lain-lain. Jelas karena senasib sepenanggungan maka bermacam etnis ini bisa membaur, tetapi&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;di luar Sawalunto etnis pribumi dan etnis pendatang sering terjadi gesekkan berujung konflik berdarah karena kurang ikatan historis yang membangun.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Akhirnya&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;dengan melihat lubang tersebut, maka kita akan arif dan makin mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah dianugrahkan Tuhan Yang Maha Esa dan tentunya dengan tetesan keringat, darah dan nyawa. &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;***Foto dan narasi Rudi Hartono Gece mahasiswa Ilmu Sejarah, Unand, dan bergiat di Komunitas Hujan.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: center" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;Tips&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:15;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Berwisata ke Goedang Ramsoem dan masuk Lubang Tambang Batubara, maka hal yang perlu diperhatikan yakni &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Bawalah kamera atau &lt;i&gt;handycam&lt;/i&gt; untuk mengabadikan koleksi museum dan &lt;i&gt;moment &lt;/i&gt;unik dalam sejarah kehidupan kita.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Sediakan notes kecil untuk mencatat uraian ringkas yang tertera di depan koleksi museum dan penjelasan tambahan yang terkait dengan hal ini.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;jangan mencoba mengangkat dan mempermainkan barang-barang tersebut, karena mengandung nilai-nilai sejarah yang tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Mintalah bantuan dari dinas terkait untuk menjelaskan sejarah ringkas, &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;objek yang akan dilihat.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Jangan buang sampah sembarangan kerena akan mengganggu kenyamanan dan keindahan.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Jangan sekali-sekali menyalakan benda yang bisa menyulut api baik korek api, rokok hal ini disebabkan di dalam lubang tambang terdapat sejenis gas yang disebut &lt;i&gt;Methan&lt;/i&gt; yang bereaksi cepat terhadap benda &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;di atas, dan apabila itu terjadi, maka bisa menimbulkan kebakaran dan ledakkan besar di dalam.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Bila &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;kita sedang berada di dalam lubang tambang tersebut, maka alangkah baiknya kita masuk secara bergantian 5-6 orang saja. Karena bila secara keseluruhan masuk, akan mengakibatkan resiko bagi keselamatan jiwa karena udara tentu kurang. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Hal &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;yang terpenting yakni setiap memasuki lubang tambang harus diiringi pemandu karena ia lebih mengetahui keadaan di dalam dan bisa menjelaskan mana daerah yang boleh atau belum bisa dilihat untuk saat itu. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Selamat menikmati.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:imagedata&gt;&lt;/o:lock&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-7473871685589449431?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/7473871685589449431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=7473871685589449431&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7473871685589449431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/7473871685589449431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2008/01/jalan-jalan-yuk.html' title='jalan jalan yuk!'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-8092927625210813184</id><published>2007-12-18T07:10:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T07:11:13.371-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Perlukah Rantau Baru&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh : Rudi Hartono G&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kepanikan, Kegelisahan, itulah kata-kata yang dapat merefleksikan keadaan masyarakat yang berdomisili lima ratus meter dari bibir pantai khususnya Sumatra Barat. Dengan keadaan alam yang sedang ‘rapuh’ ditambah dengan isu akhir-akhir ini tentang gelombang besar yang terkenal dengan tsunami, maka jelas semua masyarakat di sekitar pantai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;gamang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Entah apa yang menyebabkan dan siapa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menciptakan isu tersebut, tetapi yang pasti yakni atas nama kepentingan berada di balik itu semua. Dengan menciptakan isu yang tak bertanggungjawab maka pihak tersebut akan mendapat untung di antara ketakutan dan kepanikan masyarakat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya dalam literatur yang namanya tsunami atau gelombang pasang besar, tak asing lagi di daerah Sumatra Barat khusus daerah pantai kota Padang, pada masa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Belanda menguasai daerah ini juga terjadi hal serupa, tetapi yang menjadi perhatian yang besar baik dari pemerintah Belanda ataupun peneliti yakni gelombang yang di awali oleh gempa pada tahun 1797. Keadaan kota Padang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada saat itu luluh lantak sehingga mengakibatkan seluruh aktifitas terhenti. Gelombang tersebut mengakibatkan kapal-kapal dan perahu yang tertambat di pelabuhan muara terlempar sejauh tiga ratus sampai dengan lima ratus meter dan daratan di sekitar pelabuhan rata dengan tanah (G. Asnan :2007)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Rantau Baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya istilah merantau tak asing lagi bagi orang Sumatra Barat khususnya Minangkabau. Pergi merantau bagi masyarakat ini sudah menjadi ciri khas dan akhirnya menjadi budaya. Memang awalnya merantau &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;disebabkan oleh motif ekonomi yang melandasi. Tetapi di sepanjang perjalanannya motif tersebut akhirnya berubah, sesuai dengan zaman.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seperti setelah terjadinya perang Paderi antara Belanda ditambah kaum adat melawan kaum agama, sehingga ringkasnya kaum agama kalah dan melarikan diri (merantau) untuk menyelamatkan diri dan pada masa ini jelas kaum ulama yang banyak merantau ke daerah timur yang dianggap belum dikuasai Belanda. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Juga di masa pergolakan yakni PRRI, akhirnya Sumatra Tengah “kalah” dan para pejuang (tentara, pelajar bersenjata) yang umumnya lali-laki &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ikut dalam perperangan tersebut lari akibat penindasan PKI (Partai Komunis Indonesia). Tindakan PKI disebabkan ingin menambah basisnya di daerah, jadi bila seseorang yang nyata-nyata terlibat perperangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan orang yang diduga saja terlibat akan dipaksa ikut organisasi ini, lalu bila tidak bergabung, maka akan ditindas. Dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;juga alasan merantau yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tak bisa terbantahkan yakni akibat rasa tak terima sebagai orang yang kalah perang dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hanya ada satu jalan untuk keluar dari rasa ini yakni dengan merantau (Mestika Zed, dkk).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terakhir setelah orde baru lengser mengakibatkan ketimpangan dari berbagai aspek terlebih dunia pendidikan. Pendidikan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;hanya berada di pusat, akibatnya masyarakat yang menginginkan limpahan pendidikan, harus pindah atau yang sering disebut merantau secara intelektual). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tetapi bila kita kembali &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pada persoalan di atas, maka sekarang bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jadi masalah keselamatan dan ketentraman yang membuat masyarakat merantau. Terlebih kita tahu bahwa Padang dulunya, juga adalah daerah tujuan merantau masyarakat dari &lt;i&gt;luhak nan tigo, &lt;/i&gt;karena daerah yang ramai.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selain daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bagian barat juga daerah wilayah timur juga menjadi tujuan perantau untuk berdagang dan akhirnya menetap di sana. Daerah timur dipilih karena daerah tersebut &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ramai disebabkan oleh &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;banyak aktifitas perdagangan dari seluruh dunia berpusat di sana.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akankah daerah timur tersebut, menjadi daerah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan menjadi tujuan perantauan berikutnya atau kita mencari daerah baru misalnya pulau Kalimantan yang dianggap aman dari masalah itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya semua berada di tangan kita masing-masing, apakah kita akan tenang dan berhati-hati atau akan selalu menanggapi isu-isu yang terlontar dari pihak yang tak bertanggungjawab lalu kita menyelamatkan diri ke tempat yang dirasa menentramkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;***Penulis adalah mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-8092927625210813184?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/8092927625210813184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=8092927625210813184&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/8092927625210813184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/8092927625210813184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/12/perlukah-rantau-baru-oleh-rudi-hartono_18.html' title=''/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-6128335198963341988</id><published>2007-12-18T07:04:00.000-08:00</published><updated>2007-12-18T07:05:33.500-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;Beralih ke Corak Baru Terjebak Arus Lama &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh : Rudi Hartono Gece***&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Judul : &lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Memikir Ulang Regionalisme&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penulis : &lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Gusti Asnan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penerbit : &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; :Yayasan Obor&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Cetakan : &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pertama, 2007&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tebal : &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;XXVI + 263 Hal&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bila kita melihat dan memperhatikan semua karya tulis orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada masa sekarang, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kebanyakkan dari karya tulis tersebut adalah karya yang tak bisa diterbitkan dulunya, juga karya yang dipersulit untuk terbit dan karya yang dianggap bertentangan dengan norma-norma ketimuran.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tetapi sekarang terbalik, banyak tulisan yang menyajikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persoalan yang dianggap ‘tabu’ dulunya, sekarang seenaknya menjadi konsumsi kalayak ramai dan juga tulisan yang dipastikan di masanya dianggap dapat menghancurkan cita-cita Bangsa seperti buku yang dikategorikan kiri, tak boleh masuk apalagi diterbitkan di sini, tetapi sekarang mendapat tempat juga banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;beredar dan laku keras.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitupun buku ini, penulis membahas persoalan yang dulu belum tersentuh atau sempat terlupakan yakni dekade 1950-an. Dekade ini dianggap adalah dasawarsa Negara sedang kebla-blasan seperti kejadian seumur jagungnya pemerintahan, silih berganti pertukaran kabinet dan zaman banyaknya pemberontakan di daerah-daerah yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dulu sangat menyokong pemerintah. Dan dalam segi sparsial penulis meneliti Sumatra Barat (SB) yang pada tahun ini masih menjadi bagian Provinsi Sumatra Tengah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Buku ini membahas secara menyeluruh SB sepanjang dasawarsa 1950-an yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;relatif luput dari kajian sejarawan ataupun para ilmuan sosial, padahal berbagai pengalaman tersebut bisa menjelaskan bagaimana sikap perpolitikan, sosial, budaya orang SB sekarang ini. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pelbagai sikap tersebut, berlandaskan atas pemikiran orang pinggir (daerah) melihat dirinya sebagai bagian pusat (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;) yang masih muda belia, serta hubungan daerah dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pusat. Di samping itu juga membahas perlawanan daerah kepada pusat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;baik berupa pemikiran atau kontak senjata dalam artian Sumatra Tengah ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan perlawanan Riau dan Jambi (sebagai pinggiran) kepada pusat (dalam hal ini Bukittingi).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tetapi yang perlu dikritisi yakni ungkapan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;membahas secara menyeluruh Sumatra Barat sepanjang dasawarsa 1950-an namun bila dilihat dalam buku di atas, maka bisa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disimpulkan bahwa buku ini hanya membahas ‘kulit ari’ masalah SB dasawarsa itu. Ini bias dilihat dalam bab III tentang ide-ide tentang otonomi dan demokrasi, dalam penjelasan isu ini &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;penulis mengambil pemikiran M. Hatta dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;M. Nasrun sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;representatif ide yang tercermin di Sumatra Barat . Tetapi bukankah kita tahu bahwa dalam hal ide-ide domokrasi dan otonomi bukan hanya dua orang ini saja yang mengambil peran baik dalam mendukung, dan memberi masukkan baru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sini masih ada tokoh-tokoh baik berada di luar Sumatra Barat, masyarakat ‘awan’ (atau bukan dari golongan orang besar) dan juga perempuan seperti Rasuna Said yang ikut dalam polemik tentang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ide-ide otonomi dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;demokrasi. Dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengambil satu saja sebagai wakil dari pelbagai golongan ini,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;maka akan bisa merepresentasikan dinamika masyarakat di Sumatra Barat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tentu dengan memilih dua tokoh ini sebagai representatif ide-ide otonomi dan demokrasi di daerah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SB terlihat penulis terjebak ‘pakem lama’ yakni orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;besar bias mewakili orang banyak (dalam buku ini yakni pembesar politik), sehingga ungkapan sejarah hanya milik orang besar’ bisa terlihat dalam buku ini, dan membenarkan ungkapan Bambang Purwanto (2007: Ombak) bahwa historiografi Indonesia gagal karena sepanjang perjalanannya rakyat kebanyakkan (&lt;i style=""&gt;badarai)&lt;/i&gt; tak sempat masuk atau mendapat tempat dalam rekontruksi sejarah. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walaupun demikian buku ini sudah mulai mencoba membahas bagian yang belum ‘terlirik’ atau tak sempat diungkapkan oleh ilmuan sosial dan para sejarawan, sehingga dengan memahami dasawarsa ini, maka kita bisa mengetahui dan akhirnya menjadi bijaksana dalam menilai kejadian yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;‘sebangsa’ dengan hal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini di Indonesia dan Sumatra Barat pada khususnya . Dan dengan hadirnya buku ini, maka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita bisa mendapatkan kembali sejarah yang hilang juga bisa menghilangkan haus akan sejarah Sumatra Barat pada dasawarsa 1950-an.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;***Penulis adalah Mahasiswa Sejarah dan tergabung dalam Komunitas Hujan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-6128335198963341988?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/6128335198963341988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=6128335198963341988&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/6128335198963341988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/6128335198963341988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/12/beralih-ke-corak-baru-terjebak-arus.html' title=''/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-905083812921538419</id><published>2007-12-04T20:53:00.000-08:00</published><updated>2007-12-04T20:56:15.141-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Pengaruh Mitologi dalam Dunia Laut&lt;br /&gt;Oleh : Rudi Hartono Gece***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra&lt;br /&gt;Penulis : Gusti Asnan&lt;br /&gt;Penerbit : Ombak : Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetak : Pertama, Juli 2007&lt;br /&gt;Tebal : IX + 405 Hal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan pemerintah dalam masa kotemporer, sudah mulai melirik sektor yang tak lagi hanya wilayah darat, tetapi telah mulai ‘sadar’ bahwa wilayah laut Indonesia adalah kekayaan maha dahsyat bila dikelola dengan tepat, dan baru percaya lautlah wilayah terbesar yang dimiliki Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam buku ini bisa dilihat bagaimana ‘tuan’ dari Indonesia (Hindia Belanda) khusus pantai barat Sumatra mengelola dan memprioritaskan masalah kelautan ini. Bagaimana kesadaran dari orang asing tersebut dengan potensi yang terkandung dalam wilayah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang perlu diperhatikan yakni konsep pantai barat Sumatra disini mengundang artian pantai barat Sumatra yang menjadi satu kesatuan administrative. Dan wilayahnya yakni mulai dari Inderapura di Selatan hingga Singkel (Aceh) di Utara seperti ditegaskan dalam Besluit van de hooge regeering (keputusan dari kepala pemerintahan) tahun 1825, atau tepatnya 20 Desember 1825 dan yang menjabat pada masa itu yakni H.J.J.L de Stuers yakni pada masa jabatannya yakni Desember 1824 sampai dengan Juli 1829 (Gusti Asnan: 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek maritim yang menjadi fokus utama disertasi yang telah dibukukan ini adalah aspek perdagangan dan pelayaran. Hal ini disebabkan karena aspek perkapalan, perikanan, perampokan, mitologi akan bergerak dengan sendirinya bila dua aspek di atas bergerak dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemahaman yang analisa yang tajam dari Kolonial Belanda terhadap potensi yang dimiliki oleh daerah ini, maka diawal langsung langsung terlihat daerah ini menjadi perintis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aspek perdagangan dan perkapalan mulai secara sungguh-sungguh dimasukan dalam sistem ekonomi yakni tahun 1819 (hal 13) dan sejak tahun ini dua aspek menjadi prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang perlu dicurigai yaknim mengapa mitologi laut seolah ‘dianak tirikan’ bukankan pemahaman terhadap mitos telah lama berkembang dan sangat mempengaruhi budaya sehingga akhirnya berorientasi pada perilaku masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang bisa kita lihat bagaimana penghargaan masyarakat pantaidi Minangkabau terhadap laut. Bila terjadi kekurangan dan banyak musibah, maka dengan sendirinya upacara atau ritualpun dilaksanakan. Umumnya di daerah pantai masyarakat menyembelih kerbau yang di simbolkan sebagai hewan berarti bagi orang Minang, dan darahnya dicurahkan ke laut.&lt;br /&gt;Dengan memahami dan menjelaskan pengaruh mitos-mitos yang ada di daerah Inderapura sampai ke Singkel yang pasti berbeda, maka dengan sendirinya muncullah pemahaman dan kebijaksanaan dari perilaku penguasa di sana, mengapa kebijakan ini dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya buku ini tentunya sangat bermanfaat bagi kita yang sadar dan menyukai dunia maritim sehingga tentu dengan sendirinya menimbulkan kepahaman. Buku ini juga layak menjadi penambah dan mungkin awal dari literatur tentang maritim Indonesia khususnya pantai barat Sumatra, terlebih bahasa yang digunakan komunikatif danjuga mengunakan bahasa sedikit popular.&lt;br /&gt;*** Penulis adalah mahasiswa Ilmu Sejarah dan sekarang di FLI (Forum Lintas Ilmu) dan LPK dan sekarang aktif di buletin Independen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-905083812921538419?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/905083812921538419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=905083812921538419&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/905083812921538419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/905083812921538419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/12/pengaruh-mitologi-dalam-dunia-laut-oleh.html' title=''/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-2089346976833308459</id><published>2007-11-30T03:20:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T03:21:08.836-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Perempuan dalam Pergulatan dan Pergulatan dalam Perempuan&lt;br /&gt;Oleh : Rudi Hartono***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu seminar membedah, buku Shock and love di gedung E Universitas Andalas, ada hal yang menarik tentang statement seorang panelis, yakni orang Indonesia, khususnya perempuan sekarang menjadi ‘rebutan’ bagi  laki-laki (orang Barat). Hal ini disebabkan karena anggapan orang sana, bahwa orang Timur khususnya perempuan Indonesia adalah perempuan  yang penurut dengan suami. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu hal ini yang sangat aneh, mengapa fenomena ini terjadi dan berkembang. Di wilayah  Barat perempuan di sana sedang berpesta dengan jerih payahnya selama ini sehingga akhirnya cita-cita selama ini yakni ingin mendapatkan hak sama lewat istilah ‘feminisme’ tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, ternyata dalam hal ini dapat dicurigai, bahwa laki-laki di wilayah Barat ternyata tak menginginkan perempuan menjadi orang nomor satu  dimana pun atau paling tidak di rumah tangga. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga rasional yang dibangga-banggakan selama ini, tentu menjadi ambigu antara ucapan dan perbuatan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di sini kita tak ingin mengkaji latarbelakang (background) pemikiran mengapa laki-laki di Barat telah berpaling dari wanita sewilayahnya, tetapi hanya mengkaji perbandingan antara orang Barat dan Timur dalam proses berhasil dan cara berhasil untuk mendapat apa yang ingin dia inginkan selama ini, dan tentu kendala yang didapat selama perjuangan dan mempertahankan eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini penulis mengambil contoh dari salah satu wilayah Timur dan negara apa lagi selain Indonesia. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; dan negara Amerika Serikat. Di sini kita akan tentunya memakai istilah atau konsep negara berkembang dan negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara maju adalah konsep mengambarkan kebesaran dari negara baik dari segi, ekonomi, pemikiran, budaya, politik, sosial. Sedangkan negara berkembang yakni negara yang ingin atau sedang beranjak maju dan ingin meninggalkan kekolotannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelas dengan sendirinya kita tak bisa membandingkan antara dua daerah yang masuk dalam konsep ini. kemajuan negara maju bukan hanya karena orang di dalamnya hebat atau kritis tetapi, masa yang pengalaman historisnya juga panjang. Menurut A.A Toffel bahwa negara pasti akan melewati tiga gelombang besar. Gelombang tersebut yakni gelombang Pertanian, gelombang industri, gelombang informasi dan negara maju menghadapi satu gelombang dalam waktu satu abad, tetapi lain halnya dengan negara berkembang tiga gelombang ini dihadapinya sekaligus. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang menarik yakni sebutan dari dua wilayah Barat  (Amerika) dan Timur (Indonesia) terhadap she (wanita). Orang Amerika untuk menyatakan lawan jenis laki-laki yakni women (dan orang juga mengartikan wanita), tetapi kalau di Indonesia disebut perempuan. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Dalam hal ini perempuan berasal dari kata ‘empu’ yakni tokoh manusia yang dihargai dan dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dijelaskan di atas bahwa dalam dua daerah ini sulit atau riskan untuk diperbandingkan hal ini jelas, tetapi dalam persamaan kita bisa lihat bahwa faktor penghambat dalam perkembangan gerakan yang ingin mengembalikan atau menuntut haknya sama dengan laki-laki yakni keluarga, agama, budaya. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini akan kita jelaskan bagaimana keluarga sangat berpengaruh untuk meningkatkan berkembangnya perempuan. Keluarga bisa mentranfomasikan ilmu untuk perkembangan atau pengembang kemajuan seseorang anak. Keluargalah adalah faktor kunci yang sangat berperan penting untuk semua hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, keluarga juga berperan untuk menutup atau menghambat kemajuan. Bayangkan bila keluarga memingit anaknya waktu tak mendapat mencicipi nikmat pendidikan, maka tak akan pernah perempuan untuk berfikir tentang hal ini. seperti yang dilakukan R.A Kartini dalam umur 15 Tahun sudah tak bisa mencicipi pendidikan, tetapi hanya karena tulisan suratnya dipublikasi, maka ia sekarang dianggap sebagai tokoh emansipasi wanita walau berbagai pro-kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor agama juga berperan untuk mengembangkan kemajuan perempuan. Dalam agama perempuan dianggap mahkluk ke dua dan hanya sebagai pembawa dosa. Perempuan dalam agama Hindu dianggap berguna bila sudah menikah dengan seorang pria, ia akan menyerahkan hudup bagi dharma kepada suami. Perempuan yang menikah dianggap suci, sedangkan perempuan yang ditinggal suami (janda) dianggap rendah. Dan yang paling menyedihkan bagi agama Hindu yakni apabila suami dari perempuan meninggal, maka istri harus meninggal (dengan cara dibakar). &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalu kita ambil contoh di Bali, maka tradisi bakar istri bila suami meninggal duluan, tidak ada hanya dalam hal ini sangat terjadi perbedaan yang diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Dalam segi pemberian bantuan orangtua, anak laki-laki dan perempuan juga berbeda pada prinsipnya. Menurut Astiti (1994) jenis bantuan yang diberikan orangtua terhadap anak laki-laki bila dibanding dengan perempuan tidak berbeda, tetapi yang membedakan yakni frekuensi  pemberian dan jumlah pemberian. Kalau untuk anak laki-laki dianggap kewajiban orangtua, sedang untuk perempuan dianggap sebagai bantuan sukarela. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama Budha perempuan tak bisa sama dengan laki-laki. Bila seorang perempuan ingin menjadi Budha, maka cara yang akan ditempuh berat bila dibanding laki-laki. Dalam hal ini tingkatan laki-laki untuk menjadi Budha hanya melewati 250 silas, sedangkan perempuan harus melewati 350 silas. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal ini juga terjadi pada agama Yahudi dan Kristen, perempuan dianggap orang kelas dua. Ia dianggap najis dan bergelimang dosa, aktu sedang ‘haid’ ia akan dijauhkan dan dianggap berdosa besar dan waktu sedang melahirkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, dalam agama Islam hal yang banyak dipertentangkan dan dikritik oleh aktifis gender yakni adanya anjuran poligami. Dalam agama Islam laki-laki dibolehkan untuk menikah satu, dua, tiga sampai empat perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi menurut Gustave Lebone yakni pendapat orang bahwa tidak pernah ada kebencian ataupun celaan orang Eropa terhadap peraturan poligami, karena ia menggangap poligami di Timur baik dan dapat mengangkat derajat dan martabat ahklak umat yang melakukannya dan lebih mengokohkan pertalian keluarga. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perempuan dalam budaya, juga dianggap orang kelas dua (second’s sex). Ia hanya diberikan porsi dalam rumah tangga &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; budaya pada awalnya sangat mengekang aktifitas perempuan bila berada di luar rumah. Hal ini karena budaya adalah satu kosensus bagi manusia terhadap cara dan trik untuk menghargai atau bersahabat dengan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Di negara berkembang khususnya Indonesia, keinginan untuk mengamakan hak telah lama berkembang dan sekarang sudah mendapatkan hasil, tetapi hasil ini masih mencurigakan yakni apakah hasil yang didapat ini timbul dari kesadaran atau hanya karena trik politik untuk mendapatkan massa politik dari perempuan.&lt;br /&gt;Orang Amerika lebih dulu mendapatkan hasil dari kerjakeras diakibatkan kerena negara tersebut sudah lama merdeka.&lt;br /&gt;Dan factor agama, budaya, keluarga adalah faktor pendorong dan penghambat dari cita-cita persamaan hak.&lt;br /&gt;Solusinya yakni perlu ditafsirkan kembali konsep perempuan baik dari segi agama, budaya, keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Kepustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jahrani, Musfir.  Poligami dari Berbagai Perspektif. Jakarta : Insan Press, 1996.&lt;br /&gt;Djayadiningrat, Soenarjati. Citra Wanita dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita Amerika : Fakultas Sastra UI, 1995.&lt;br /&gt;Dorothy W. Cantor, dkk. Women in Power ; Kiprah Wanita dalam Dunia Politik. Jakarta   : Gramedia, 1992.&lt;br /&gt;Fadlillah. Kecerdasan Budaya. Padang : Andalas University Press. 2006.&lt;br /&gt;Fauzie, dkk. Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. Yogyakarta : Perpustakaan Yayasan Hatta, 1993.&lt;br /&gt;Ihromi T.O. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Obor Indonesia, 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kegiatan ini diadakan pada hari selasa 9 November 2007. Yang menyampaikan adalah penyaji yang ber-basic llmu antropologi.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Padahal di wilayah Barat dari dulu diagungkan sifat rasionalisme, demokratis, pluralisme, dan lain-lain. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah orang yang dianggap Barat ‘waah’ ternyata  secara tersirat sekarang  menginginkan kembali ke arah yang dianggap ‘kuno’  yakni perempuan yang patuh dan tunduk terhadap suami.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Atau mungkin kejenuhan dari tindak-tanduk perempuan Barat selama ini.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Alasan yang diambil karena ada kedekatan dan kepahaman dengan negara ini.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; Dikutip dari buku  Fadlilllah yang berjudul Kecerdasan Budaya, Padang, Andalas University Press. Hal 13.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Penyebutan ini bukan tanpa alasan, hal ini disebabakan bahwa asal nama perempuan bermaknakan lebih meninggikan arti bila dibandingkan sebutan wanita. Baca Ciptaningsih Utaryo dalam Permasalahan Perempuan di Negara-Negara Berkembang. Perpustakaan Yayasan Hatta,  hal 75.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Untuk jelasnya baca Women in Power ; Kiprah Wanita dalam Dunia Politik. Fakultas Sastra UI.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt; Baca A. Nunuk Prasetyo Murdianti dalam Pengaruh Agama dalam Ideologi Gender. Perpustakaan Yayasan Hatta,  hal 5.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Dikutip dari Tjok Istri Putra Astiti dalam Nilai Anak dalam Kehidupan Keluarga Orang Bali. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta : Yayasan Obor, 2004. hal 237.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Ibid.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Baca Dr. Musfir Al-Jahrani dalam Poligami dari Berbagai Perspektif, Jakarta : Insan Press. Hal 87.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8250865143787619354#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Dalam istilahnya permpuan diidentikan dengan kasur,sumur, dapur. Y.B Mangunwidjaya dalam Kemiskinan dalam Perempuan, Perpustakaan Yayasan Hatta. Hal 148.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-2089346976833308459?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/2089346976833308459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=2089346976833308459&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/2089346976833308459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/2089346976833308459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/11/perempuan-dalam-pergulatan-dan_30.html' title=''/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-3249632349226185692</id><published>2007-11-30T03:10:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T03:11:24.903-08:00</updated><title type='text'>Merantau</title><content type='html'>Merantau&lt;br /&gt;Oleh: Rudi Hartono***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dan sungguh banyak orang yang mengkaji Minangkabau dilihat dari aspek merantaunya. Aspek ini tentu tidak bisa dinilai sebagai pengagung-agungkan oleh orang Minang sendiri terhadap budaya yang telah lama tercipta. Tetapi dengan sendirinya bila tak menginggung budaya ini, maka kajian tentang Minangkabau tak akan berhasil mengambarkan sifat dan tabiat dengan baik. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8250865143787619354&amp;amp;postID=3249632349226185692#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dari penjelasan yang banyak tersebut, juga tersirat bahwa merantau adalah sebuah etos kerja yang tinggi dari orang Minangkabau. Tentu hal ini tidak sembarangan, memang sekarang pergi ‘merantau’ ke Jakarta membutuhkan waktu 1 jam 15 menit dan ke Malaysia 50 menit saja. Tetapi coba bayangkan  bagaimana orang Minang bisa berdomisili di kota-kota pelabuhan yang ramau dulunya, dan bagaimana ia bisa mencapai dan dengan cara apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola merantau ini sebenarnya telah lama mendarah daging bagi orang  Minang, bukan hanya sesudah orang asing masuk dan menguasai daerah ini, tetapi budaya merantau ini adalah budaya yang berkembang jauh sebelum masuk ‘si bule’ ke pedalaman atau di pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja bagaimana daerah atau kampung yang berada di Negeri Sembilan Malaysia  bernama. Nama daerahnya sama dengan daerah asal para perantau, sebutsaja, daerah Batuhampar, Payakumbuh, Mungko, Sori Malungga, Batubelang, Tigobatu, Tanahdata. Seolah di sana adalah daerah perluasan luhak Limopuluh Koto, dan Tanahdata, walaupun dipisahkan oleh hutan, rawa dan selat yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan bagaimana perkampungan orang Minang bisa berada di sana, dan bukan hanya itu saja yang menjadi pertanyaan tetapi apa yang menyebabkan dengan rintangan hutan, rawa, sungai dan masih banyak lagi orang Minang bisa menghadang itu semua. Tentu hal ini menjelaskan bahwa etos kerja sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang awal dari pola merantau orang Minang tak terlepas dari alasan materil yakni berkembangnya daerah pantai Timur Sumatra tetapi hal yang tak terbantahkan yakni keinginan untuk mencari budaya baru yang bisa menjembatani keinginan ‘kaum muda’ yang pergi merantau dan yang tak terpuaskan keinginannya di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi etos kerja bukan hanya terjadi akibat keadaan daerah yang di rantau sangat menjanjikan tetapi karena adanya sebuah keinginan yang besar yang ditimbulkan oleh hati yang keras untuk berubah, baik secara finansial, atau budaya. Semangat ini hadir akibat ketidak puasan diri terhadap alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga, secara tersirat dapat ditarik kesimpulan, bahwa etos kerja tinggi tersebut tak bisa diturunkan bagi keturunan sesudahnya. Sehingga terlihat sekarang bagaimana budaya cepat menyerah telah menjangkiti orang Minang sekarang. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8250865143787619354&amp;amp;postID=3249632349226185692#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Tetapi etos kerja berasal dari keinginan hati ingin berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, merantau bisa dikatakan adalah satu wujud dari etos kerja yang tinggi yang sudah mendarah daging bagi orang Minang, namun sekarang hal tersebut bisa dipertanyakan lagi ke nama hilangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8250865143787619354&amp;amp;postID=3249632349226185692#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Dalam hal ini lihat saja tulisan yang awalnya disertasi Muchtar Naim dari Merantau.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8250865143787619354&amp;amp;postID=3249632349226185692#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Hal ini bisa dilihat dari antusiasme orang Minang (Orang Muda) terhadap lowongan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-3249632349226185692?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/3249632349226185692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=3249632349226185692&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/3249632349226185692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/3249632349226185692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/11/merantau.html' title='Merantau'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-5939376770515123283</id><published>2007-11-30T03:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T03:06:15.177-08:00</updated><title type='text'>Apapun itu!</title><content type='html'>semua tulisan yang pernah publikasi ataupun belum berkesempatan terpublikasi akan disimpan di sini.Dan ini tempat semua tercurah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-5939376770515123283?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/5939376770515123283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=5939376770515123283&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/5939376770515123283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/5939376770515123283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/11/apupun-itu.html' title='Apapun itu!'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250865143787619354.post-79015686720150710</id><published>2007-11-30T02:27:00.001-08:00</published><updated>2007-11-30T02:29:12.941-08:00</updated><title type='text'>Kau yang Terlupakan</title><content type='html'>Aneh, pekerjaanmu di saat kau telah mengabadikan semua orang, kau lupa bahwa kau juga memerlukannya. dan disaat ini ku coba untuk meliriknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250865143787619354-79015686720150710?l=sejarah-ku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/feeds/79015686720150710/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8250865143787619354&amp;postID=79015686720150710&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/79015686720150710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250865143787619354/posts/default/79015686720150710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sejarah-ku.blogspot.com/2007/11/kau-yang-terlupakan.html' title='Kau yang Terlupakan'/><author><name>Rudi Hartono G</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
