Perempuan dalam Pergulatan dan Pergulatan dalam Perempuan
Oleh : Rudi Hartono***
Di waktu seminar membedah, buku Shock and love di gedung E Universitas Andalas, ada hal yang menarik tentang statement seorang panelis, yakni orang Indonesia, khususnya perempuan sekarang menjadi ‘rebutan’ bagi laki-laki (orang Barat). Hal ini disebabkan karena anggapan orang sana, bahwa orang Timur khususnya perempuan Indonesia adalah perempuan yang penurut dengan suami. [1]
Tentu hal ini yang sangat aneh, mengapa fenomena ini terjadi dan berkembang. Di wilayah Barat perempuan di sana sedang berpesta dengan jerih payahnya selama ini sehingga akhirnya cita-cita selama ini yakni ingin mendapatkan hak sama lewat istilah ‘feminisme’ tercapai.
Tetapi, ternyata dalam hal ini dapat dicurigai, bahwa laki-laki di wilayah Barat ternyata tak menginginkan perempuan menjadi orang nomor satu dimana pun atau paling tidak di rumah tangga. [2]
Sehingga rasional yang dibangga-banggakan selama ini, tentu menjadi ambigu antara ucapan dan perbuatan.[3]
Tetapi di sini kita tak ingin mengkaji latarbelakang (background) pemikiran mengapa laki-laki di Barat telah berpaling dari wanita sewilayahnya, tetapi hanya mengkaji perbandingan antara orang Barat dan Timur dalam proses berhasil dan cara berhasil untuk mendapat apa yang ingin dia inginkan selama ini, dan tentu kendala yang didapat selama perjuangan dan mempertahankan eksistensinya.
Dalam hal ini penulis mengambil contoh dari salah satu wilayah Timur dan negara apa lagi selain Indonesia. [4] dan negara Amerika Serikat. Di sini kita akan tentunya memakai istilah atau konsep negara berkembang dan negara maju.
Negara maju adalah konsep mengambarkan kebesaran dari negara baik dari segi, ekonomi, pemikiran, budaya, politik, sosial. Sedangkan negara berkembang yakni negara yang ingin atau sedang beranjak maju dan ingin meninggalkan kekolotannya.
Jadi jelas dengan sendirinya kita tak bisa membandingkan antara dua daerah yang masuk dalam konsep ini. kemajuan negara maju bukan hanya karena orang di dalamnya hebat atau kritis tetapi, masa yang pengalaman historisnya juga panjang. Menurut A.A Toffel bahwa negara pasti akan melewati tiga gelombang besar. Gelombang tersebut yakni gelombang Pertanian, gelombang industri, gelombang informasi dan negara maju menghadapi satu gelombang dalam waktu satu abad, tetapi lain halnya dengan negara berkembang tiga gelombang ini dihadapinya sekaligus. [5]
Tetapi yang menarik yakni sebutan dari dua wilayah Barat (Amerika) dan Timur (Indonesia) terhadap she (wanita). Orang Amerika untuk menyatakan lawan jenis laki-laki yakni women (dan orang juga mengartikan wanita), tetapi kalau di Indonesia disebut perempuan. [6] Dalam hal ini perempuan berasal dari kata ‘empu’ yakni tokoh manusia yang dihargai dan dihormati.
Seperti yang dijelaskan di atas bahwa dalam dua daerah ini sulit atau riskan untuk diperbandingkan hal ini jelas, tetapi dalam persamaan kita bisa lihat bahwa faktor penghambat dalam perkembangan gerakan yang ingin mengembalikan atau menuntut haknya sama dengan laki-laki yakni keluarga, agama, budaya. [7]
Dalam hal ini akan kita jelaskan bagaimana keluarga sangat berpengaruh untuk meningkatkan berkembangnya perempuan. Keluarga bisa mentranfomasikan ilmu untuk perkembangan atau pengembang kemajuan seseorang anak. Keluargalah adalah faktor kunci yang sangat berperan penting untuk semua hal.
Tetapi, keluarga juga berperan untuk menutup atau menghambat kemajuan. Bayangkan bila keluarga memingit anaknya waktu tak mendapat mencicipi nikmat pendidikan, maka tak akan pernah perempuan untuk berfikir tentang hal ini. seperti yang dilakukan R.A Kartini dalam umur 15 Tahun sudah tak bisa mencicipi pendidikan, tetapi hanya karena tulisan suratnya dipublikasi, maka ia sekarang dianggap sebagai tokoh emansipasi wanita walau berbagai pro-kontra.
Faktor agama juga berperan untuk mengembangkan kemajuan perempuan. Dalam agama perempuan dianggap mahkluk ke dua dan hanya sebagai pembawa dosa. Perempuan dalam agama Hindu dianggap berguna bila sudah menikah dengan seorang pria, ia akan menyerahkan hudup bagi dharma kepada suami. Perempuan yang menikah dianggap suci, sedangkan perempuan yang ditinggal suami (janda) dianggap rendah. Dan yang paling menyedihkan bagi agama Hindu yakni apabila suami dari perempuan meninggal, maka istri harus meninggal (dengan cara dibakar). [8]
Tetapi kalu kita ambil contoh di Bali, maka tradisi bakar istri bila suami meninggal duluan, tidak ada hanya dalam hal ini sangat terjadi perbedaan yang diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Dalam segi pemberian bantuan orangtua, anak laki-laki dan perempuan juga berbeda pada prinsipnya. Menurut Astiti (1994) jenis bantuan yang diberikan orangtua terhadap anak laki-laki bila dibanding dengan perempuan tidak berbeda, tetapi yang membedakan yakni frekuensi pemberian dan jumlah pemberian. Kalau untuk anak laki-laki dianggap kewajiban orangtua, sedang untuk perempuan dianggap sebagai bantuan sukarela. [9]
Dalam agama Budha perempuan tak bisa sama dengan laki-laki. Bila seorang perempuan ingin menjadi Budha, maka cara yang akan ditempuh berat bila dibanding laki-laki. Dalam hal ini tingkatan laki-laki untuk menjadi Budha hanya melewati 250 silas, sedangkan perempuan harus melewati 350 silas. [10]
Dan hal ini juga terjadi pada agama Yahudi dan Kristen, perempuan dianggap orang kelas dua. Ia dianggap najis dan bergelimang dosa, aktu sedang ‘haid’ ia akan dijauhkan dan dianggap berdosa besar dan waktu sedang melahirkan anak.
Sedangkan, dalam agama Islam hal yang banyak dipertentangkan dan dikritik oleh aktifis gender yakni adanya anjuran poligami. Dalam agama Islam laki-laki dibolehkan untuk menikah satu, dua, tiga sampai empat perempuan.
Tetapi menurut Gustave Lebone yakni pendapat orang bahwa tidak pernah ada kebencian ataupun celaan orang Eropa terhadap peraturan poligami, karena ia menggangap poligami di Timur baik dan dapat mengangkat derajat dan martabat ahklak umat yang melakukannya dan lebih mengokohkan pertalian keluarga. [11]
Sedangkan perempuan dalam budaya, juga dianggap orang kelas dua (second’s sex). Ia hanya diberikan porsi dalam rumah tangga [12] budaya pada awalnya sangat mengekang aktifitas perempuan bila berada di luar rumah. Hal ini karena budaya adalah satu kosensus bagi manusia terhadap cara dan trik untuk menghargai atau bersahabat dengan lingkungan.
Kesimpulan
Di negara berkembang khususnya Indonesia, keinginan untuk mengamakan hak telah lama berkembang dan sekarang sudah mendapatkan hasil, tetapi hasil ini masih mencurigakan yakni apakah hasil yang didapat ini timbul dari kesadaran atau hanya karena trik politik untuk mendapatkan massa politik dari perempuan.
Orang Amerika lebih dulu mendapatkan hasil dari kerjakeras diakibatkan kerena negara tersebut sudah lama merdeka.
Dan factor agama, budaya, keluarga adalah faktor pendorong dan penghambat dari cita-cita persamaan hak.
Solusinya yakni perlu ditafsirkan kembali konsep perempuan baik dari segi agama, budaya, keluarga.
Daftar Kepustakaan
Al-Jahrani, Musfir. Poligami dari Berbagai Perspektif. Jakarta : Insan Press, 1996.
Djayadiningrat, Soenarjati. Citra Wanita dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan Gerakan Wanita Amerika : Fakultas Sastra UI, 1995.
Dorothy W. Cantor, dkk. Women in Power ; Kiprah Wanita dalam Dunia Politik. Jakarta : Gramedia, 1992.
Fadlillah. Kecerdasan Budaya. Padang : Andalas University Press. 2006.
Fauzie, dkk. Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. Yogyakarta : Perpustakaan Yayasan Hatta, 1993.
Ihromi T.O. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta: Obor Indonesia, 2004.
[1] Kegiatan ini diadakan pada hari selasa 9 November 2007. Yang menyampaikan adalah penyaji yang ber-basic llmu antropologi.
[2] Padahal di wilayah Barat dari dulu diagungkan sifat rasionalisme, demokratis, pluralisme, dan lain-lain. Lalu yang menjadi pertanyaan apakah orang yang dianggap Barat ‘waah’ ternyata secara tersirat sekarang menginginkan kembali ke arah yang dianggap ‘kuno’ yakni perempuan yang patuh dan tunduk terhadap suami.
[3] Atau mungkin kejenuhan dari tindak-tanduk perempuan Barat selama ini.
[4] Alasan yang diambil karena ada kedekatan dan kepahaman dengan negara ini.
[5] Dikutip dari buku Fadlilllah yang berjudul Kecerdasan Budaya, Padang, Andalas University Press. Hal 13.
[6] Penyebutan ini bukan tanpa alasan, hal ini disebabakan bahwa asal nama perempuan bermaknakan lebih meninggikan arti bila dibandingkan sebutan wanita. Baca Ciptaningsih Utaryo dalam Permasalahan Perempuan di Negara-Negara Berkembang. Perpustakaan Yayasan Hatta, hal 75.
[7] Untuk jelasnya baca Women in Power ; Kiprah Wanita dalam Dunia Politik. Fakultas Sastra UI.
[8] Baca A. Nunuk Prasetyo Murdianti dalam Pengaruh Agama dalam Ideologi Gender. Perpustakaan Yayasan Hatta, hal 5.
[9] Dikutip dari Tjok Istri Putra Astiti dalam Nilai Anak dalam Kehidupan Keluarga Orang Bali. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta : Yayasan Obor, 2004. hal 237.
[10] Ibid.
[11] Baca Dr. Musfir Al-Jahrani dalam Poligami dari Berbagai Perspektif, Jakarta : Insan Press. Hal 87.
[12] Dalam istilahnya permpuan diidentikan dengan kasur,sumur, dapur. Y.B Mangunwidjaya dalam Kemiskinan dalam Perempuan, Perpustakaan Yayasan Hatta. Hal 148.
Friday, November 30, 2007
Merantau
Merantau
Oleh: Rudi Hartono***
Banyak dan sungguh banyak orang yang mengkaji Minangkabau dilihat dari aspek merantaunya. Aspek ini tentu tidak bisa dinilai sebagai pengagung-agungkan oleh orang Minang sendiri terhadap budaya yang telah lama tercipta. Tetapi dengan sendirinya bila tak menginggung budaya ini, maka kajian tentang Minangkabau tak akan berhasil mengambarkan sifat dan tabiat dengan baik. [1]
Tetapi dari penjelasan yang banyak tersebut, juga tersirat bahwa merantau adalah sebuah etos kerja yang tinggi dari orang Minangkabau. Tentu hal ini tidak sembarangan, memang sekarang pergi ‘merantau’ ke Jakarta membutuhkan waktu 1 jam 15 menit dan ke Malaysia 50 menit saja. Tetapi coba bayangkan bagaimana orang Minang bisa berdomisili di kota-kota pelabuhan yang ramau dulunya, dan bagaimana ia bisa mencapai dan dengan cara apa.
Pola merantau ini sebenarnya telah lama mendarah daging bagi orang Minang, bukan hanya sesudah orang asing masuk dan menguasai daerah ini, tetapi budaya merantau ini adalah budaya yang berkembang jauh sebelum masuk ‘si bule’ ke pedalaman atau di pesisir.
Lihat saja bagaimana daerah atau kampung yang berada di Negeri Sembilan Malaysia bernama. Nama daerahnya sama dengan daerah asal para perantau, sebutsaja, daerah Batuhampar, Payakumbuh, Mungko, Sori Malungga, Batubelang, Tigobatu, Tanahdata. Seolah di sana adalah daerah perluasan luhak Limopuluh Koto, dan Tanahdata, walaupun dipisahkan oleh hutan, rawa dan selat yang luas.
Coba bayangkan bagaimana perkampungan orang Minang bisa berada di sana, dan bukan hanya itu saja yang menjadi pertanyaan tetapi apa yang menyebabkan dengan rintangan hutan, rawa, sungai dan masih banyak lagi orang Minang bisa menghadang itu semua. Tentu hal ini menjelaskan bahwa etos kerja sangat tinggi.
Memang awal dari pola merantau orang Minang tak terlepas dari alasan materil yakni berkembangnya daerah pantai Timur Sumatra tetapi hal yang tak terbantahkan yakni keinginan untuk mencari budaya baru yang bisa menjembatani keinginan ‘kaum muda’ yang pergi merantau dan yang tak terpuaskan keinginannya di kampung.
Jadi etos kerja bukan hanya terjadi akibat keadaan daerah yang di rantau sangat menjanjikan tetapi karena adanya sebuah keinginan yang besar yang ditimbulkan oleh hati yang keras untuk berubah, baik secara finansial, atau budaya. Semangat ini hadir akibat ketidak puasan diri terhadap alam.
Sehingga, secara tersirat dapat ditarik kesimpulan, bahwa etos kerja tinggi tersebut tak bisa diturunkan bagi keturunan sesudahnya. Sehingga terlihat sekarang bagaimana budaya cepat menyerah telah menjangkiti orang Minang sekarang. [2] Tetapi etos kerja berasal dari keinginan hati ingin berubah.
Akhirnya, merantau bisa dikatakan adalah satu wujud dari etos kerja yang tinggi yang sudah mendarah daging bagi orang Minang, namun sekarang hal tersebut bisa dipertanyakan lagi ke nama hilangnya.
***Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.
[1] Dalam hal ini lihat saja tulisan yang awalnya disertasi Muchtar Naim dari Merantau.
[2] Hal ini bisa dilihat dari antusiasme orang Minang (Orang Muda) terhadap lowongan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Oleh: Rudi Hartono***
Banyak dan sungguh banyak orang yang mengkaji Minangkabau dilihat dari aspek merantaunya. Aspek ini tentu tidak bisa dinilai sebagai pengagung-agungkan oleh orang Minang sendiri terhadap budaya yang telah lama tercipta. Tetapi dengan sendirinya bila tak menginggung budaya ini, maka kajian tentang Minangkabau tak akan berhasil mengambarkan sifat dan tabiat dengan baik. [1]
Tetapi dari penjelasan yang banyak tersebut, juga tersirat bahwa merantau adalah sebuah etos kerja yang tinggi dari orang Minangkabau. Tentu hal ini tidak sembarangan, memang sekarang pergi ‘merantau’ ke Jakarta membutuhkan waktu 1 jam 15 menit dan ke Malaysia 50 menit saja. Tetapi coba bayangkan bagaimana orang Minang bisa berdomisili di kota-kota pelabuhan yang ramau dulunya, dan bagaimana ia bisa mencapai dan dengan cara apa.
Pola merantau ini sebenarnya telah lama mendarah daging bagi orang Minang, bukan hanya sesudah orang asing masuk dan menguasai daerah ini, tetapi budaya merantau ini adalah budaya yang berkembang jauh sebelum masuk ‘si bule’ ke pedalaman atau di pesisir.
Lihat saja bagaimana daerah atau kampung yang berada di Negeri Sembilan Malaysia bernama. Nama daerahnya sama dengan daerah asal para perantau, sebutsaja, daerah Batuhampar, Payakumbuh, Mungko, Sori Malungga, Batubelang, Tigobatu, Tanahdata. Seolah di sana adalah daerah perluasan luhak Limopuluh Koto, dan Tanahdata, walaupun dipisahkan oleh hutan, rawa dan selat yang luas.
Coba bayangkan bagaimana perkampungan orang Minang bisa berada di sana, dan bukan hanya itu saja yang menjadi pertanyaan tetapi apa yang menyebabkan dengan rintangan hutan, rawa, sungai dan masih banyak lagi orang Minang bisa menghadang itu semua. Tentu hal ini menjelaskan bahwa etos kerja sangat tinggi.
Memang awal dari pola merantau orang Minang tak terlepas dari alasan materil yakni berkembangnya daerah pantai Timur Sumatra tetapi hal yang tak terbantahkan yakni keinginan untuk mencari budaya baru yang bisa menjembatani keinginan ‘kaum muda’ yang pergi merantau dan yang tak terpuaskan keinginannya di kampung.
Jadi etos kerja bukan hanya terjadi akibat keadaan daerah yang di rantau sangat menjanjikan tetapi karena adanya sebuah keinginan yang besar yang ditimbulkan oleh hati yang keras untuk berubah, baik secara finansial, atau budaya. Semangat ini hadir akibat ketidak puasan diri terhadap alam.
Sehingga, secara tersirat dapat ditarik kesimpulan, bahwa etos kerja tinggi tersebut tak bisa diturunkan bagi keturunan sesudahnya. Sehingga terlihat sekarang bagaimana budaya cepat menyerah telah menjangkiti orang Minang sekarang. [2] Tetapi etos kerja berasal dari keinginan hati ingin berubah.
Akhirnya, merantau bisa dikatakan adalah satu wujud dari etos kerja yang tinggi yang sudah mendarah daging bagi orang Minang, namun sekarang hal tersebut bisa dipertanyakan lagi ke nama hilangnya.
***Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.
[1] Dalam hal ini lihat saja tulisan yang awalnya disertasi Muchtar Naim dari Merantau.
[2] Hal ini bisa dilihat dari antusiasme orang Minang (Orang Muda) terhadap lowongan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Apapun itu!
semua tulisan yang pernah publikasi ataupun belum berkesempatan terpublikasi akan disimpan di sini.Dan ini tempat semua tercurah.
Kau yang Terlupakan
Aneh, pekerjaanmu di saat kau telah mengabadikan semua orang, kau lupa bahwa kau juga memerlukannya. dan disaat ini ku coba untuk meliriknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)