Tuesday, December 18, 2007

Beralih ke Corak Baru Terjebak Arus Lama

Oleh : Rudi Hartono Gece***

Judul : Memikir Ulang Regionalisme

Penulis : Gusti Asnan

Penerbit : Jakarta :Yayasan Obor

Cetakan : Pertama, 2007

Tebal : XXVI + 263 Hal

Bila kita melihat dan memperhatikan semua karya tulis orang Indonesia pada masa sekarang, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kebanyakkan dari karya tulis tersebut adalah karya yang tak bisa diterbitkan dulunya, juga karya yang dipersulit untuk terbit dan karya yang dianggap bertentangan dengan norma-norma ketimuran.

Tetapi sekarang terbalik, banyak tulisan yang menyajikan persoalan yang dianggap ‘tabu’ dulunya, sekarang seenaknya menjadi konsumsi kalayak ramai dan juga tulisan yang dipastikan di masanya dianggap dapat menghancurkan cita-cita Bangsa seperti buku yang dikategorikan kiri, tak boleh masuk apalagi diterbitkan di sini, tetapi sekarang mendapat tempat juga banyak beredar dan laku keras.

Begitupun buku ini, penulis membahas persoalan yang dulu belum tersentuh atau sempat terlupakan yakni dekade 1950-an. Dekade ini dianggap adalah dasawarsa Negara sedang kebla-blasan seperti kejadian seumur jagungnya pemerintahan, silih berganti pertukaran kabinet dan zaman banyaknya pemberontakan di daerah-daerah yang dulu sangat menyokong pemerintah. Dan dalam segi sparsial penulis meneliti Sumatra Barat (SB) yang pada tahun ini masih menjadi bagian Provinsi Sumatra Tengah.

Buku ini membahas secara menyeluruh SB sepanjang dasawarsa 1950-an yang relatif luput dari kajian sejarawan ataupun para ilmuan sosial, padahal berbagai pengalaman tersebut bisa menjelaskan bagaimana sikap perpolitikan, sosial, budaya orang SB sekarang ini.

Pelbagai sikap tersebut, berlandaskan atas pemikiran orang pinggir (daerah) melihat dirinya sebagai bagian pusat (Jakarta) yang masih muda belia, serta hubungan daerah dengan pusat. Di samping itu juga membahas perlawanan daerah kepada pusat baik berupa pemikiran atau kontak senjata dalam artian Sumatra Tengah ke Jakarta dan perlawanan Riau dan Jambi (sebagai pinggiran) kepada pusat (dalam hal ini Bukittingi).

Tetapi yang perlu dikritisi yakni ungkapan membahas secara menyeluruh Sumatra Barat sepanjang dasawarsa 1950-an namun bila dilihat dalam buku di atas, maka bisa disimpulkan bahwa buku ini hanya membahas ‘kulit ari’ masalah SB dasawarsa itu. Ini bias dilihat dalam bab III tentang ide-ide tentang otonomi dan demokrasi, dalam penjelasan isu ini penulis mengambil pemikiran M. Hatta dan M. Nasrun sebagai representatif ide yang tercermin di Sumatra Barat . Tetapi bukankah kita tahu bahwa dalam hal ide-ide domokrasi dan otonomi bukan hanya dua orang ini saja yang mengambil peran baik dalam mendukung, dan memberi masukkan baru.

Di sini masih ada tokoh-tokoh baik berada di luar Sumatra Barat, masyarakat ‘awan’ (atau bukan dari golongan orang besar) dan juga perempuan seperti Rasuna Said yang ikut dalam polemik tentang ide-ide otonomi dan demokrasi. Dengan mengambil satu saja sebagai wakil dari pelbagai golongan ini, maka akan bisa merepresentasikan dinamika masyarakat di Sumatra Barat.

Tentu dengan memilih dua tokoh ini sebagai representatif ide-ide otonomi dan demokrasi di daerah SB terlihat penulis terjebak ‘pakem lama’ yakni orang besar bias mewakili orang banyak (dalam buku ini yakni pembesar politik), sehingga ungkapan sejarah hanya milik orang besar’ bisa terlihat dalam buku ini, dan membenarkan ungkapan Bambang Purwanto (2007: Ombak) bahwa historiografi Indonesia gagal karena sepanjang perjalanannya rakyat kebanyakkan (badarai) tak sempat masuk atau mendapat tempat dalam rekontruksi sejarah.

Walaupun demikian buku ini sudah mulai mencoba membahas bagian yang belum ‘terlirik’ atau tak sempat diungkapkan oleh ilmuan sosial dan para sejarawan, sehingga dengan memahami dasawarsa ini, maka kita bisa mengetahui dan akhirnya menjadi bijaksana dalam menilai kejadian yang ‘sebangsa’ dengan hal ini di Indonesia dan Sumatra Barat pada khususnya . Dan dengan hadirnya buku ini, maka kita bisa mendapatkan kembali sejarah yang hilang juga bisa menghilangkan haus akan sejarah Sumatra Barat pada dasawarsa 1950-an.

***Penulis adalah Mahasiswa Sejarah dan tergabung dalam Komunitas Hujan.

0 comments: