Merantau
Oleh: Rudi Hartono***
Banyak dan sungguh banyak orang yang mengkaji Minangkabau dilihat dari aspek merantaunya. Aspek ini tentu tidak bisa dinilai sebagai pengagung-agungkan oleh orang Minang sendiri terhadap budaya yang telah lama tercipta. Tetapi dengan sendirinya bila tak menginggung budaya ini, maka kajian tentang Minangkabau tak akan berhasil mengambarkan sifat dan tabiat dengan baik. [1]
Tetapi dari penjelasan yang banyak tersebut, juga tersirat bahwa merantau adalah sebuah etos kerja yang tinggi dari orang Minangkabau. Tentu hal ini tidak sembarangan, memang sekarang pergi ‘merantau’ ke Jakarta membutuhkan waktu 1 jam 15 menit dan ke Malaysia 50 menit saja. Tetapi coba bayangkan bagaimana orang Minang bisa berdomisili di kota-kota pelabuhan yang ramau dulunya, dan bagaimana ia bisa mencapai dan dengan cara apa.
Pola merantau ini sebenarnya telah lama mendarah daging bagi orang Minang, bukan hanya sesudah orang asing masuk dan menguasai daerah ini, tetapi budaya merantau ini adalah budaya yang berkembang jauh sebelum masuk ‘si bule’ ke pedalaman atau di pesisir.
Lihat saja bagaimana daerah atau kampung yang berada di Negeri Sembilan Malaysia bernama. Nama daerahnya sama dengan daerah asal para perantau, sebutsaja, daerah Batuhampar, Payakumbuh, Mungko, Sori Malungga, Batubelang, Tigobatu, Tanahdata. Seolah di sana adalah daerah perluasan luhak Limopuluh Koto, dan Tanahdata, walaupun dipisahkan oleh hutan, rawa dan selat yang luas.
Coba bayangkan bagaimana perkampungan orang Minang bisa berada di sana, dan bukan hanya itu saja yang menjadi pertanyaan tetapi apa yang menyebabkan dengan rintangan hutan, rawa, sungai dan masih banyak lagi orang Minang bisa menghadang itu semua. Tentu hal ini menjelaskan bahwa etos kerja sangat tinggi.
Memang awal dari pola merantau orang Minang tak terlepas dari alasan materil yakni berkembangnya daerah pantai Timur Sumatra tetapi hal yang tak terbantahkan yakni keinginan untuk mencari budaya baru yang bisa menjembatani keinginan ‘kaum muda’ yang pergi merantau dan yang tak terpuaskan keinginannya di kampung.
Jadi etos kerja bukan hanya terjadi akibat keadaan daerah yang di rantau sangat menjanjikan tetapi karena adanya sebuah keinginan yang besar yang ditimbulkan oleh hati yang keras untuk berubah, baik secara finansial, atau budaya. Semangat ini hadir akibat ketidak puasan diri terhadap alam.
Sehingga, secara tersirat dapat ditarik kesimpulan, bahwa etos kerja tinggi tersebut tak bisa diturunkan bagi keturunan sesudahnya. Sehingga terlihat sekarang bagaimana budaya cepat menyerah telah menjangkiti orang Minang sekarang. [2] Tetapi etos kerja berasal dari keinginan hati ingin berubah.
Akhirnya, merantau bisa dikatakan adalah satu wujud dari etos kerja yang tinggi yang sudah mendarah daging bagi orang Minang, namun sekarang hal tersebut bisa dipertanyakan lagi ke nama hilangnya.
***Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas, Padang.
[1] Dalam hal ini lihat saja tulisan yang awalnya disertasi Muchtar Naim dari Merantau.
[2] Hal ini bisa dilihat dari antusiasme orang Minang (Orang Muda) terhadap lowongan menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil)
Friday, November 30, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment